Puisi Y. Wibisono Ingatan itu sungguh berserak. Tercecer di tiap tikungan jalan yang kini asing. Tersesat serupa serangga liar yang melayang dalam pendar lampu-lampu jalan di sepanjang Veteran, Sumbersari, dan Gajayana. Di ujung tempat yang penuh rindu itu, tiba-tiba seperti kulihat kau berjalan dengan anak rambut yang selalu dimainkan angin. Menoleh dengan senyum yang tak…
Category: Puisi
Pucuk-Pucuk Cengkeh
Puisi Y. Wibisono Di negeriku yang jauh, dik, tak pernah ada musim semi. Sepanjang tahun, yang ada hanyalah musim cengkeh. Ruang hatinya tiba-tiba saja penuh aroma daun cengkeh. Harum yang dihembus oleh pucuk-pucukyang menguning segar. Lelaki itu tak mungkin tahan lagi. Rindunya telah membuncah, seperti bunga cengkeh hijau yang merona merah. Dikenangnya, ia yang lelaki remaja,menenteng tas menyusur trotoar…
Epitaf Sawah
Puisi Y. Wibisono Di ujung musim yang basah, lelaki itu berpesan: “Kelak, baringkan jasadku di pinggir pematang. Biarkan udara menjamah, agar lebur bersama air dan tanah.” Sebuah sawah telah terhampar di dadanya. Berpagar bukit hijau dan dangau beratap ilalang. Dikenangnya cintanya yang diam-diam pada rimbun jagung segar keemasan yang ia puja seperti anak gadis Eropa….
Yang Tertinggal di Carita
Puisi Y. Wibisono Kepada pasir, tempat telunjukmu menggores, ia bisikkan: “Pandangi lekat-lekat paras bidadari itu sebab kelak mungkin ia akan kembali ke sini. Jika kau takut tak mengenali, ingat saja ia bersuara lucu.” Ada yang tertinggal di pantai Carita. Angin malam dan debur ombak. Juga sebentuk wajah pualam yang bersinar. Langit dan laut tak lagi…
Cap Go Meh
Puisi Y. Wibisono Masih tersisa tingkah 12 naga siang tadi. Terperangkap dalam merah gemerlap lampion. Seorang ibu tua bersimpuh di sudut Kwan Tie Bio. Hatinya tersenyum rekah, jiwanya pasrah. Seperti liuk asap hio yang lembut melayang ke langit kelenteng. Telah berpuluh kali ia melewati imlek di sini. Bersama keriuhan dari tahun ke tahun. Menunggu tatung…
Luruh
Puisi Y. Wibisono Ia temukan dirinya berdiri di lereng bukit, di sisa sepertiga malam yang hening. Ada hasrat sederhana yang terus membuncah dalam dadanya. Bukan kerinduan pada benderang langit di atas Masjidil Haram. Bukan. Tapi ini tentang sebuah surau kecil. Dindingnya basah. Dihijaukan lumut yang hidup subur dari percik air padasan. Tak ada gempita cahaya….
Artefak Penghujung Tahun
Puisi Y. Wibisono Mari kita kenang segala hal terlembut,serupa gerimis pertama yang menyentuh wajahsesaat setelah kemarau panjang. Mungkin saja waktu tak benar berubahmeski berpuluh musim telah lewat.Ia tetap seperti yang kita jumpa saat kanak. Lalu kita merayakan apa, bisikmu.Merayakan perayaan! Dan selalu demikianlah kita. Menandadan merayakan, tanpa perlu persetujuansang waktu. [] Samarinda 31/12/2013 23:59
Shaum
Puisi Y. Wibisono Jika batara memuja batari, jika dewa mengasihi dewi, tidakkah puasa mencintai puisi? Puasa selalu membawa lagu untuknya. Lagu kesiur daun bambu. Mengalun dari masa kanak, sejauh yang mampu dikenang. Di antara dedaun rimbun bambu hijau di sudut rumah. Di puasa masa kanaknya, puisi menetap di rimbun bambu. Berlimpah ruah, sebab puisi ada…
19 September
Karya: Y. Wibisono :istriku Kau tak pernah menulis puisi untukku. Mungkin tak perlu. Sebab kasih sayangmu lebih indah dari sajak cinta. Tidur malammu yang penuh jaga, telah menjelma lagu malam yang mendayu. Hati yang lapang pada semua khilaf, serupa hikayat tentang telaga jernih di hati perempuan. Airmata yang sesekali menetes di pipi, seperti kristal berkilauan…
Gerhana
Karya: Y. Wibisono Ia akan meminangmu saat gerhana. Ketika kegelapan dan cahaya bersatu dalam wajah malam. Gaunmu meremang merah, terajut dari percik sinar bulan. Lelaki dengan cinta merah, lekas melayangkanmu ke peluk purnama yang terkuyup, purnama yang tertangkup. Dalam takzimnya, disematkannya cincin yang dipuja dari embun malam di jari lembut perempuan yang tersipu. Ia Kamajaya,…