Category: Puisi

Jejak

      Comments Off on Jejak

Puisi Y. Wibisono Ingatan itu sungguh berserak. Tercecer di tiap tikungan jalan yang kini asing. Tersesat serupa serangga liar yang melayang dalam pendar lampu-lampu jalan di sepanjang Veteran, Sumbersari, dan… Read more »

Pucuk-Pucuk Cengkeh

      Comments Off on Pucuk-Pucuk Cengkeh

Puisi Y. Wibisono Di negeriku yang jauh, dik, tak pernah ada musim semi. Sepanjang tahun, yang ada hanyalah musim cengkeh. Ruang hatinya tiba-tiba saja penuh aroma daun cengkeh. Harum yang dihembus oleh… Read more »

Epitaf Sawah

      Comments Off on Epitaf Sawah

Puisi Y. Wibisono Di ujung musim yang basah, lelaki itu berpesan: “Kelak, baringkan jasadku di pinggir pematang. Biarkan udara menjamah, agar lebur bersama air dan tanah.” Sebuah sawah telah terhampar… Read more »

Yang Tertinggal di Carita

      Comments Off on Yang Tertinggal di Carita

Puisi Y. Wibisono Kepada pasir, tempat telunjukmu menggores, ia bisikkan: “Pandangi lekat-lekat paras bidadari itu sebab kelak mungkin ia akan kembali ke sini. Jika kau takut tak mengenali, ingat saja… Read more »

Cap Go Meh

      Comments Off on Cap Go Meh

Puisi Y. Wibisono Masih tersisa tingkah 12 naga siang tadi. Terperangkap dalam merah gemerlap lampion. Seorang ibu tua bersimpuh di sudut Kwan Tie Bio. Hatinya tersenyum rekah, jiwanya pasrah. Seperti… Read more »

Luruh

      1 Comment on Luruh

Puisi Y. Wibisono Ia temukan dirinya berdiri di lereng bukit, di sisa sepertiga malam yang hening. Ada hasrat sederhana yang terus membuncah dalam dadanya. Bukan kerinduan pada benderang langit di… Read more »

Artefak Penghujung Tahun

      Comments Off on Artefak Penghujung Tahun

Puisi Y. Wibisono Mari kita kenang segala hal terlembut,serupa gerimis pertama yang menyentuh wajahsesaat setelah kemarau panjang. Mungkin saja waktu tak benar berubahmeski berpuluh musim telah lewat.Ia tetap seperti yang… Read more »

Shaum

      Comments Off on Shaum

Puisi Y. Wibisono Jika batara memuja batari, jika dewa mengasihi dewi, tidakkah puasa mencintai puisi? Puasa selalu membawa lagu untuknya. Lagu kesiur daun bambu. Mengalun dari masa kanak, sejauh yang… Read more »

19 September

      Comments Off on 19 September

Karya: Y. Wibisono :istriku Kau tak pernah menulis puisi untukku. Mungkin tak perlu. Sebab kasih sayangmu lebih indah dari sajak cinta. Tidur malammu yang penuh jaga, telah menjelma lagu malam… Read more »

Gerhana

      Comments Off on Gerhana

Karya: Y. Wibisono Ia akan meminangmu saat gerhana. Ketika kegelapan dan cahaya bersatu dalam wajah malam. Gaunmu meremang merah, terajut dari percik sinar bulan. Lelaki dengan cinta merah, lekas melayangkanmu… Read more »