Karya: Y. Wibisono (1) seperti laron riuh berhambur mengejar sesorot cahaya seperti laron riuh berkejaran ketika hujan temaram tapi, itu sesaat esok laron-laron akan luruh lalu mati, diam lalu musim hujan depan laron-laron akan berhambur lagi :laron-laron yang beda! (2) setiap kematian barangkali memang untuk ditangisi bahkan ketika kita tak punya lagi sisa airmata juga…
Category: Puisi
Opera Sepertiga Malam
Karya: Y. Wibisono lelaki yang menghela nafas panjang bahkan sejak malam masih berwarna senja “kau hanya mencintai rasa cintamu untukku dan itu sama sekali bukan tentang aku itu rasa, bukan aku! dan hanya untuk rasa itulah kau perlu aku ada di sini” lelaki itu tak melirik, diambilnya sebatang kretek dan sejenak kemudian dia telah tenggelam…
Simpang Empat Air Putih
Karya: Y. Wibisono ada yang tertegun di sudut simpang termangu di bawah temaram lampu jalan waktu telah mencuri darinya seorang lelaki yang ketinggalan taksi bang udin, juragan ikan bakar itu telah pula berambut dua warna seperti warna kehidupan yang telah direguk di antara aroma asap patin bakar dan peluh para sopir bertelanjang dada dan dulu,…
Sketsa Duka
Karya: Y. Wibisono duka itu adalah malam-malam yang kering dengan kegetiran yang mengiris ditiupkan dari langit dan awan hitam yang berarak tanpa arah duka itu adalah seorang pria yang memunguti serpihan masa kecil seperti pengembara yang menghitung dedaun kering yang dihamburkan angin dari musim yang asing sepanjang samarinda-sepinggan hanyalah noktah-noktah kegelapan dan goresan kelam pada…
Perempuan Jembatan
Karya: Y. Wibisono dia selalu mencium bau hyena pada setiap aroma tubuh lelaki maka selalu ditutupnyalah segala hal yang indah ketika makhluk itu ada di sekitarnya dengan dengkingan-dengkingan yang memuakkan juga mengirim kengerian ketika malam tak selalu ramah maka mimpinya adalah memanah seekor hyena lalu mengirisnya tipis-tipis memanggangnya dengan nyala dendam dan menjajakannya di tepian…
Cendawan Jingga Di Puncak Merapi
Karya: Y. Wibisono pertemuan kita, Shella seperti sebaris rumput kering yang tersaput embun lalu memudar ketika mentari menampakkan sinar berceritalah tentang apa saja apapun itu adalah tak penting untukku sebab aku terlalu sibuk menghitung setiap ruas bulu matamu juga sebentuk bibirmu yang kulukiskan bagai bilahan rona mawar di taman yang basah dan jalan terjal berbatu…
Di Sini, Surga Itu Bernama Mahakam
Karya: Y. Wibisono ombak pecah beriak bermain lemparan wajah rembulan terayun dipantul bagai kanak berebut perahu kecil bermain meniti buih berpacu ketinting riang menderak malam kapal pedagang tak tergoyah ombak bersenandung hening penjelajah sungai ponton batubara merayap serupa bukit berjalan lampu-lampu terhampar bagai kunang-kunang menggoda malam bagai kerling si jelita berkerlip di atmosfir beraroma jingga…
Perjalanan 1
Karya: Y. Wibisono samarinda – teluk dalam – sebulu berjam-jam kami mengeja debu matahari telah mengupas atap kendaraan juga menggosongkan kepala para pekerja kayu :ini khatulistiwa yang sebenarnya! lalu kamipun mentertawakan semak-semak di sisi jalan berdahan dan berdaun debu musim yang gelisah, segelisah hati para transmigran mengganti lembu dengan truk-truk kayu mengganti lumbung padi dengan…
Kota Ini Menyukaimu
Karya: Y. Wibisono (untuk gadis D, pengganti souvenir yang tak sempat kukirim) (1) sebatang sungai berkelok di antara hati yang meragu dan di muaranya aku masih saja memilin pintalan cerita dengan akhir yang selalu ambigu barangkali masih ingin kuceritakan lebih lengkap lagi tentang bisikan daun-daun gmelina dan keluh kesahnya tentang hujan yang tak mampu didekapnya…
Perjalanan 3
Karya: Y. Wibisono akupun berkemas melipat senyum di dalam koper :selamat berjumpa kembali dengan debu perpisahan ini tak akan dikenang seperti daun yang jatuh ditiup angin seekor tupai dan ranting akasia meringkuk ditelan sepi seperti keringnya mimpi kami tentang warna-warna emas bulir padi dan sekawan pipit yang bernyanyi tentang panen dan orang-orangan sawah kembali kami…