Karya: Y. Wibisono yang melihat dengan mata batin yang mendengar dengan mata hati yang kasihnya bertabur seperti bintang yang lewat setiap helai rambutnya tercurah doa indah untuk anak cucu dalam 84 tahun jalanmu, ibunda pernahkah kau mengeluh?
Category: Puisi
21 April
Karya: Y. Wibisono Maaf, saya terlambat lahir. Tidak sempat bertemu, hanya mengenal dari buku, lagu, serta cerita guru. Tapi, masih boleh berkenalan kan, ibu? Ibu yang mulia, berbahagialah. Sebab selalu ada satu hari, ketika semua orang menjelma dirimu. Kartini besar, kartini sedang, kartini kecil. Semua bersanggul dan berkebaya, dengan langkah kemayu. Kini, Banyak perempuan telah…
Sajak Untuk Pejuang Yang Terlupakan
Lama tak menulis di sini. Semua tulisan berkumpul di kepala, dan hanya berputar-putar di situ, seperti janin yang tak segera ingin lahir. Namun menyaksikan di layar kaca, dua janda pejuang yang sudah renta meneteskan airmata, tiba-tiba tergambar suasana masa lampau. Lebih dari tigapuluh tahun lalu, ketika almarhum ayah mengajak saya yang masih SD mengikuti reuni…
Temaram Sore Tasikmadu
Karya: Y. Wibisono “Nyuwun sewu, apakah anda bidadari?” Ia yang membentang selendangnya dalam sinar senja,tersenyum menggoda. “Bukan kangmas. Nama saya Tasikmadu!” Angin laut datang dari arah cakrawala, mengusik pucuk daun yang memerah lalu meniup lembut pada ceruk bebatuan. Dia yang gemulai itu terus menari, ditingkah orkestra gamelan yang mengalun dari dasar pantai selatan. Di ujung…
Ini Rinduku, Karanggongso
Karya: Y. Wibisono Aku datang kembali, masihkah kau kenali? Sementara di nadiku telah teraba deru gemuruh yang menggema. Ah, nafas pantaimu telah kucium. Juga debur ombakmu yang berdentang basah, seperti degup jantung perantau kesepian rindu kampung halaman. Sepanjang perjalanan, kukenal jejakmu. Pohon-pohon yang berjajar sepanjang jalan, jurang-jurang curam yang tetap saja mengagumkan. Wajah-wajah penakluk bukit…
Kepada Bung
Karya: Y. Wibisono “Wahai pemilik laut, adakah laut yang lebih laut, yang mahalaut, yang telah disembunyikan oleh langit dariku?” Jika kelak kau melaut lagi, ah pastilah kau akan melaut lagi. Kau selalu merindu laut, seperti kau merindu aliran darahmu yang sesekali kau rasa asing. Kau selalu rindu ikanmu, anginmu, ombakmu, juga taburan bintang yang tak…
Kereta Terakhir
Karya: Y. Wibisono Tinggal kau, lalu aku. Dan hati kita segera kosong seperti stasiun ini. Rel beku, gerbong sunyi. Bahkan menyentuh lenganmu saja aku tak berani. Adakah wajah selain wajah kita di sini? Bulan pucat, wajah kita terpantul asing di ujung peron. Pepohon berjajar dalam bayang remang. Dingin, bisikmu. Aku mendengarnya seperti lagu lirih menembus…
Merindu Ramadhan
Karya: Y. Wibisono Ramadhan mendatangiku seperti seseorang yang muncul dari masa kecil. Membawa cerita tentang petasan dan meriam bumbung. Juga sepotong kisah ketika malam-malam serombongan kanak berkeliling kampung, memukuli bambu, membanguni petani yang lelap dalam mimpi tentang panen semu dan musim yang melambai pergi. Ramadhan mengunjungiku. Ia datang, seperti seorang utusan dari negeri kubur. Berkisah…
Pernikahan
Karya: Y. Wibisono Lalu kau sentuh kaki perempuan itu, kau letakkan kepalamu di pangkuannya. Kau rasakan, betapa pipimu dipenuhi kehangatan kasih yang selalu kau damba sejak belia. Dengan pelan, kau ucap: “Ibu, sudah bolehkah aku menikah?” Perempuan itu tersenyum. Ia menyentuh rambutmu, lalu menelusuri dari pangkal sampai ujung. Berkali-kali. Ah, kau ingin itu abadi. Jemari…
Gadis Yang Menulis Puisi
Karya: Y. Wibisono Gadis yang berdiri di simpang usia itu, sangat ingin membenci waktu. Baginya, waktu hanya seperti angin, sahabatnya yang lain. Tak pernah benar-benar di sisinya, terus mengalir dan hanya menyisakan peristiwa- peristiwa yang harus dikenang. Ketika ia akhirnya sampai di simpang ke-19, ia berkata pada masa remajanya: “Maukah kau untuk terus bersamaku?” Masa…