Ini Rinduku, Karanggongso

      Comments Off on Ini Rinduku, Karanggongso

Karya: Y. Wibisono

Aku datang kembali, masihkah kau kenali?
Sementara di nadiku telah teraba deru
gemuruh yang menggema. Ah, nafas pantaimu
telah kucium. Juga debur ombakmu yang
berdentang basah, seperti degup jantung
perantau kesepian rindu kampung halaman.
Sepanjang perjalanan, kukenal jejakmu.
Pohon-pohon yang berjajar sepanjang jalan,
jurang-jurang curam yang tetap saja
mengagumkan. Wajah-wajah penakluk bukit
berbaur dengan legam kulit nelayan yang
terbakar. Ini negeri yang tak perlu
berubah.

Benar, inilah kau yang dulu. Nafas laut,
aroma laut, bunyi laut. Segera aku akan
menjadi jiwa terbius yang memandang
cakrawala dengan tanya yang selalu sama
dari waktu ke waktu. Di sebalik birumu
yang terhampar, benarkah kau sembunyikan
kereta kencana dengan putri laut selatan
di dalamnya? Seperti dongeng yang
dituturkan setiap ibu di Watulimo, ketika
angin laut menyusup pada jendela kamar
yang remang?

Ini aku di ujung pantaimu, menyentuh
buih dengan ujung jari. Buih kecil yang
terus berkejaran, seperti isi hati yang
berlompatan. Menyusun keping-keping
ingatan yang berserak, dan membayang
di kemilau pasirmu sesaat sebelum ombak
datang memecah. Pasirmu basah, seperti
basahnya hati. Pasir yang berkilat dan
sekejab muram ketika ombak menerpa.
Betapa dalam tiap butirnya terekam
kisah yang selalu berbeda.
Tentang orang-orang yang datang.
Tentang orang-orang yang pergi.
Tentang orang-orang yang menangis.
Tentang orang-orang yang merindu.

Jadi, katakanlah Karanggongso.
Jika mencintamu, haruskah aku
menjelma karang?

Prigi, 27 Oktober 2008