Ruang Renung Y. Wibisono

Dulu Praktisi, Kini Pengajar dan Peneliti

Menu
  • Beranda
  • Biografi
  • Akademik
  • Sastra
  • Hobi
  • Kontak
Menu

Luruh

Posted on April 2, 2014March 19, 2019 by wibi

Puisi Y. Wibisono

Ia temukan dirinya berdiri
di lereng bukit, di sisa sepertiga
malam yang hening.

Ada hasrat sederhana yang terus
membuncah dalam dadanya.
Bukan kerinduan pada benderang langit
di atas Masjidil Haram. Bukan.
Tapi ini tentang sebuah surau kecil.
Dindingnya basah. Dihijaukan lumut
yang hidup subur dari percik air padasan.

Tak ada gempita cahaya. Hanya temaram
sinar santun. Bergerai lembut terpancar
dari sebuah ublik di pojok ruang.

Lalu, hanya keheningan yang luruh.
Tiba-tiba seperti didengarnya suara itu.
Saat seorang lelaki sederhana bersimpuh
takzim di depan seseorang berwajah terang.
Tertatih-tatih melafalkan ayat demi ayat.

“Beribu ampun Kanjeng Sunan. Beribu ampun.”
Lelaki itu seperti akan menyerah.
Dan sang Kalijaga tersenyum. Menyentuhnya
lembut di pundak.

Sesungguhnya, wahai Saridin. Tuhanmu
sungguh Maha Tahu segala bahasa. Yang terucap
lantang atau hanya bisikan serupa desir
angin di ngarai bukit. Maka, Saridin.
Apa yang bergetar di sebalik kalbumu,
lebih berarti dari apapun yang mampu
kau lafalkan.

Dan, bersama rembulan pucat,
ia dan bayangan surau kecilnya,
lebur luruh dalam keheningan sisa malam.

Samarinda, 1 April 2014

Category: Puisi

Categories

  • Jurnal Ilmiah
  • Buku
  • Pendidikan
  • Teknologi Informasi
  • Pemrograman
  • Puisi
  • Prosa
  • Aforisma
  • Tulisan Bebas
  • Sekedar Hobi
  • Wisata
© 2026 Ruang Renung Y. Wibisono | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme