Ia temukan dirinya berdiri
di lereng bukit, di sisa sepertiga
malam yang hening.

Ada hasrat sederhana yang terus
membuncah dalam dadanya.
Bukan kerinduan pada benderang langit
di atas Masjidil Haram. Bukan.
Tapi ini tentang sebuah surau kecil.
Dindingnya basah. Dihijaukan lumut
yang hidup subur dari percik air padasan.

Tak ada gempita cahaya. Hanya temaram
sinar santun. Bergerai lembut terpancar
dari sebuah ublik di pojok ruang.

Lalu, hanya keheningan yang luruh.
Tiba-tiba seperti didengarnya suara itu.
Saat seorang lelaki sederhana bersimpuh
takzim di depan seseorang berwajah terang.
Tertatih-tatih melafalkan ayat demi ayat.

“Beribu ampun Kanjeng Sunan. Beribu ampun.”
Lelaki itu seperti akan menyerah.
Dan sang Kalijaga tersenyum. Menyentuhnya
lembut di pundak.

Sesungguhnya, wahai Saridin. Tuhanmu
sungguh Maha Tahu segala bahasa. Yang terucap
lantang atau hanya bisikan serupa desir
angin di ngarai bukit. Maka, Saridin.
Apa yang bergetar di sebalik kalbumu,
lebih berarti dari apapun yang mampu
kau lafalkan.

Dan, bersama rembulan pucat,
ia dan bayangan surau kecilnya,
lebur luruh dalam keheningan sisa malam.

Samarinda, 1 April 2014