Mari kita kenang segala hal terlembut,
serupa gerimis pertama yang menyentuh wajah
sesaat setelah kemarau panjang.

Mungkin saja waktu tak benar berubah
meski berpuluh musim telah lewat.
Ia tetap seperti yang kita jumpa saat kanak.

Lalu kita merayakan apa, bisikmu.
Merayakan perayaan!

Dan selalu demikianlah kita. Menanda
dan merayakan, tanpa perlu persetujuan
sang waktu. []

Samarinda 31/12/2013 23:59