Di ujung musim yang basah,
lelaki itu berpesan:
“Kelak, baringkan jasadku
di pinggir pematang. Biarkan
udara menjamah, agar lebur
bersama air dan tanah.”

Sebuah sawah telah terhampar
di dadanya. Berpagar bukit hijau
dan dangau beratap ilalang.
Dikenangnya cintanya yang diam-diam
pada rimbun jagung segar keemasan
yang ia puja seperti anak gadis Eropa.
Juga cemburu yang membakar saat
pucuk-pucuk tanaman menari manja pada
hembusan angin pantai selatan.

Orkestra katak menyapanya
tepat di hujan pertama. Juga
belut-belut yang pendiam, dan
ular yang berdesakan memburu
tempat kering. Lalu sekejap
tubuhnya lesap. Menjelma halimun
yang melayang di pucuk-pucuk padi
hijau yang membasah.

Di tidurnya yang dalam, nyanyi
jengkerik akan membangunkannya di
pergantian musim. Mengabarkan kemarau
yang menjelang. Lalu tanah segera
merekah hingga relung terdalam.
Udara dan debu coklat berbaur
riuh bersama keringat orang-orang
yang bertanam palawija.

Ia tak ingin ada nisan di pematang.
Epitafnya telah ditabalkan di udara.
Agar burung-burung pipit selalu
mengabarkan: seseorang terbaring
di sini dan memilih menjelma sawah.

Samarinda, 27-03-2015