Jika saja rindu punya warna, maka ruang tunggu ini tentulah akan semarak warna-warni. Meruap dari dada orang-orang yang dilanda rindu dan mereka yang sedang membangun kerinduan.
Author: wibi
Perempuan Istimewa
Seorang perempuan usia 30-an duduk di ruang tunggu sambil membaca novel tebal. Di tengah hampir semua orang sibuk dengan gadget masing-masing, ia sungguh istimewa.
Kartini
“Door duisternis tot licht” hanyalah sekumpulan surat berisi jeritan hati perempuan yang terkekang. Walau dentang suara hati itu menggaung hingga melewati abad, bahkan Kartini juga tak bisa lepas dari kekang itu. Dipingit sejak usia 12 tahun, dan akhirnya menikah sebagai istri keempat dari seorang bupati yang usianya jauh lebih tua. Ia layak menjadi pahlawan, sebab…
Indahnya Olahraga
Nak, lihatlah. Setelah mengejar bola Intanon di sisi kanan lapangan, lalu melompat kembali ke arah kiri, tubuh Yamaguchi terputar seperti dilanda puting beliung sebelum ambruk di tengah lapangan. Benar-benar ambruk, lalu bangkit berdiri tanpa cedera serius. Atau lebih tepatnya ia tak terlalu memikirkan sakitnya dan kembali tegar berjuang. Di sisi lain lihatlah apa yang dilakukan…
Cinta Hujan
Bagaimana hendak mencintai hujan, jika masih kerap menyumpahi kebasahannya?
Garis Hujan
Semua urusan di sini sepertinya berjalan baik. Maka, malam ini bisa membiarkan diri menuju mana yang disuka. Tapi deru keras di luar hotel menyiratkan hal lain. Hujan deras mengguyur, menampar dinding kaca kamar. Meninggalkan gegaris yang nyaris horizontal dengan ujung-ujung butiran yang meleleh turun. Ah, dalam paduan bayang malam dan pendar cahaya, bukankah menikmati garis-garis…
Hujan, Malam, dan Kenangan
Hujan yang reda membawa ke sini. Sebuah pusat keramaian. Tak ada yang pasti dituju, sekedar mengikut kata hati. Lalu tangga berjalan terus membawa hingga ke puncak. Sebuah tempat makan terhampar. Food court dengan live music dan lelampu yang ditata remang. Pesanan datang. Ah, nasib baik. Daging kambingnya tertata di pinggir. Agak basah tapi tak bercampur…
Kami dan Malam
Saat 15 menit menjelang pukul 11 malam, yang artinya jadwal kami bermain sudah akan habis, masih tersisa tiga anak muda yang penuh semangat. Si Nonik sudah mulai terkantuk, tapi semangat tanding tiga anak muda ini terlalu menggiurkan untuk ditinggal. Lagipula sudah beberapa kali saya tidak ikut karena berbenturan dengan jadwal ngluyur. Jadilah kami bertanding lagi….
Takdir dan Duka
Akhir minggu kemarin, melayat ke sebuah rumah duka. Setiap kematian selalu menyisakan kesedihan. Namun kali ini ditambah goresan yang menusuk. Rumah duka itu milik seorang pengusaha di bidang pendidikan informal. Seorang pria yang tangguh, yang pertemuan dengannya 25 tahun lalu membuat saya yang anak muda memutuskan untuk tinggal di Samarinda, walau tanpa sesiapapun yang dikenal….
Di Tepi Sungai Siak
Ada yang diam-diam melangkah canggung di trotoar. Hujan semalam menghapus jejaknya tak tersisa. Dingin percik air melunturkan baranya menyusuri malam. Lalu deru angin mengajarkannya tentang rahasia. Betapa menghitung kerlip lampu sepanjang jendela kamar dan tepi sungai Siak, sama sulitnya dengan memahahi mengapa perempuan mencukur alis dan melukisinya kembali.