Hujan, Malam, dan Kenangan

      Comments Off on Hujan, Malam, dan Kenangan

Hujan yang reda membawa ke sini. Sebuah pusat keramaian. Tak ada yang pasti dituju, sekedar mengikut kata hati. Lalu tangga berjalan terus membawa hingga ke puncak. Sebuah tempat makan terhampar. Food court dengan live music dan lelampu yang ditata remang. Pesanan datang. Ah, nasib baik. Daging kambingnya tertata di pinggir. Agak basah tapi tak bercampur hingga ia punya ruang untuk menunjukkan rasanya sendiri. Disajikan dalam tatakan hotplate yang tak begitu mengepul. Nasi goreng kambing, namun dagingnya tetap punya hak untuk berekspresi. Di pojok, seorang dara menyanyikan lagu cinta. Setelah kambing ini, maka dialah yang cukup menarik perhatian. Ia bersemangat menyanyikan beberapa lagu remaja masa kini. Lagu luar, membuat saya terseok berusaha menyimak syairnya. Lalu entah sadar bahwa banyak pengunjung yang tak muda lagi, ia menyanyikan lagu Vina Panduwinata. Ah, ia indah menyanyikannya. Ia berlanjut terus. Seperti melarutkan diri ke tahun 90-an. Sayangnya ia tak berhasil saat membawakan dua nomor dari Anggun. Ia tak menyatu, bahkan tak sampai menjadi separuhnya Anggun dalam penjiwaan. Tentu tak mudah baginya, mungkin ia bocah yang baru belajar berjalan saat lengking Anggun menggaung di mana-mana. Tetap saja ia cukup menghibur dibanding hingar suara di tiap counter belanja.
Malam yang basah masih akan terus berdenyar di kota ini.