Wahai ya Rabb, yang maha atas segalanya. Dalam semestaMu yang tanpa tepi, menjadi sebutir debupun kami tak layak. Dalam bentang jarak-jarak yang Kau ciptakan di jagad raya, sesungguhnya kami tak lebih makhluk lamban tak bergerak. Dalam abad-abad waktu yang Kau anugerahkan, hidup kami sesingkat embun pagi di musim kemarau. Pada ujung jatuh bangun langkah kami…
Category: Aforisma
Puasa Ya Puasa
Saya membayangkan seseorang berkacak pinggang, dan mengucap dengan geram: “Paham tidak, saya ini sedang berpuasa. Jangan coba-coba menunjukkan makanan di depan saya. Jangan berani-berani berpakaian menggoda di depan saya.”Lalu, jika keinginannya dituruti, ia berpuasa terhadap apa? Bukankah kualitas diri akan teruji dalam ragam godaan, dan kita mampu mengalahkannya.
Tertawa Boleh Saja
Di siang yang kerontang itu, ada tiga gadis karyawati sebuah tempat makan sedang bersenda gurau. Mereka tertawa lepas hingga terpingkal-pingkal. Tertawa yang apa adanya, bukankah hidup jadi lebih indah dengan tertawa. Melihat begitu riangnya mereka, orang-orang terbelalak dan ikut tersenyum. Beberapa orang yang awalnya berniat makan siang di tempat itu, memilih masuk ke tempat lain….
Rindu Di Ruang Tunggu
Jika saja rindu punya warna, maka ruang tunggu ini tentulah akan semarak warna-warni. Meruap dari dada orang-orang yang dilanda rindu dan mereka yang sedang membangun kerinduan.
Perempuan Istimewa
Seorang perempuan usia 30-an duduk di ruang tunggu sambil membaca novel tebal. Di tengah hampir semua orang sibuk dengan gadget masing-masing, ia sungguh istimewa.
Cinta Hujan
Bagaimana hendak mencintai hujan, jika masih kerap menyumpahi kebasahannya?
Garis Hujan
Semua urusan di sini sepertinya berjalan baik. Maka, malam ini bisa membiarkan diri menuju mana yang disuka. Tapi deru keras di luar hotel menyiratkan hal lain. Hujan deras mengguyur, menampar dinding kaca kamar. Meninggalkan gegaris yang nyaris horizontal dengan ujung-ujung butiran yang meleleh turun. Ah, dalam paduan bayang malam dan pendar cahaya, bukankah menikmati garis-garis…
Di Tepi Sungai Siak
Ada yang diam-diam melangkah canggung di trotoar. Hujan semalam menghapus jejaknya tak tersisa. Dingin percik air melunturkan baranya menyusuri malam. Lalu deru angin mengajarkannya tentang rahasia. Betapa menghitung kerlip lampu sepanjang jendela kamar dan tepi sungai Siak, sama sulitnya dengan memahahi mengapa perempuan mencukur alis dan melukisinya kembali.
Tajam Mengiris
Ah, betapa kadang saya membenci pilpres lalu. Bukan tentang siapa yang terpilih dan tak terpilih. Ini tentang betapa ia dengan sangat tajam mengiris ukhuwah. Luka kronis yang ditinggalkan sering mengganggu kecerdasan dan kebijakan hati.
Setengah Pria
Pagi ini sekilas mengikuti pemberitaan seorang artis pria yang telah beberapa waktu menjadi tersangka pencabulan seorang remaja pria. Di tempat lain juga ada seorang penghibur yang didampingi istrinya yang sesenggukan karena sedang menghadapi perkara pengaduan pelecehan. Lagi-lagi diadukan oleh seorang pria muda. Entah mengapa saya tidak terlalu kaget. Sudah beberapa waktu, memang jagad hiburan di…