Purnama merambat di lereng bukit. Lalu tersangkut di ujung tower seluler.
Category: Aforisma
Jejak Hujan
Menyusur trotoar yang basah. Menghitung jejak hujan yang tersisa. Nadi malam baru saja berdenyut .
Minoritas
Memandangi bendera setengah tiang di depan rumah. Belum ingin menurunkan. Tiba-tiba menyadari bahwa nampaknya ia satu-satunya yang terpasang di komplek perumahan ini. Untuk yang ke sekian kali almarhum mengajarkan sesuatu. Kali ini tentang rasa menjadi minoritas.
Mengingatmu
Tiba-tiba saja mengingatmu, dalam sebuah kenangan yang asing. Tentang kuncup yang tak jadi dimekarkan. Waktu yang berlalu telah membekukannya dalam ceruk hati. Karenanya dia abadi. Tidak menjelma bunga yang mekar semusim lalu angin menerpanya menjadi kelopak yang berserak. Tetaplah seperti itu, dan ingatan tentangnya biarlah mengisi sisa waktu perjalanan.
Gerimis Yang Menampar
Gerimis yang membasahi malam, paduan sempurna kesunyian dan kegetiran yang menyayat. Tiba-tiba seperti kerumunan janin sajak menagih jawab. Kapan akan dilahirkan? Ah, bertahun sudah memenjara jiwa dalam kebun yang kering. Gerimis, terima kasih telah menampar.
Cinta Sederhana
Seperti halnya neraka-neraka kecil yang dimunculkan, saya juga meyakini bahwa Tuhan juga menghadirkan surga kecil di dunia. Salah satunya adalah cinta istri dan anak. Cinta yang sungguh sederhana, tapi terus berdebur seperti nyanyian gelombang.
Gerimis di Jambi
Malam di Jambi. Gerimis menyiram wajah kota. Dalam temaram lampu jalan, ada ‘deja vu’ di sudut trotoar. Seperti mengais kenangan, yang tak pernah terjadi.