Hujan tumpah begitu saja. Penjual es dorong menggigil di bawah pohon. Orang-orang berlarian. Beberapa tertawa, beberapa mengumpat. Selekas tumpah, selekas berhenti. Baginya tak ada ada yang perlu dipersalahkan. Hidup tak selalu sesegar es buah, atau selembut gerimis. Ini tentang hidup seukuran gerobak dorong, yang harus habis isinya hari ini. Sederhana, tak segarang elpiji, atau serumit…
Author: wibi
Pelampung
Menyusuri kanal Sungai Baung, lalu disambut anak sungai Musi. Menjadi satu-satunya yang pakai pelampung di speedboat. Terkesan penakut air, tapi peduli amat. Bukankah yang paling bertanggungjawab atas jiwa kita adalah diri kita sendiri?
Debu
Lewat hujan, alam membasuh wajah kota. Membersihkan debu jalanan, dan debu di hati kita. Besok, debu baru akan bermunculan lagi.
Mutiara Yang Pergi
/tujuh purnama/semenjak aku berpisah denganmu/tak tahan lagi/sambil berlari kupanggil namamu/ (lembah biru, andi meriem matalatta).Mendung menggantung. Selamat jalan Mutiara Dari Selatan, semoga mendapat tempat terbaik. Kabar itu begitu menyentak. Lalu angin seolah memutar kembali lantunan lembut itu. Selamat beristirahat dengan tenang, teruslah bernyanyi di tempat yang baru.
Teguhkan Hati, Pak Dahlan
Semoga terbaca oleh Pak Dahlan, atau ada yang meneruskan ke beliau. Teguhkan hati Pak, saya masih percaya dan sangat berharap pada anda. Untuk saat ini, tindakan nyata dan solusi jauh lebih berarti daripada berargumentasi kepada orang-orang yang terlanjur putus asa. Saatnya nanti, tentu hasil yang sudah dicapai akan mudah membuka mata semua pengkritik. Namun, persoalan…
Purnama Tersangkut
Purnama merambat di lereng bukit. Lalu tersangkut di ujung tower seluler.
Jejak Hujan
Menyusur trotoar yang basah. Menghitung jejak hujan yang tersisa. Nadi malam baru saja berdenyut .
Minoritas
Memandangi bendera setengah tiang di depan rumah. Belum ingin menurunkan. Tiba-tiba menyadari bahwa nampaknya ia satu-satunya yang terpasang di komplek perumahan ini. Untuk yang ke sekian kali almarhum mengajarkan sesuatu. Kali ini tentang rasa menjadi minoritas.
Mengingatmu
Tiba-tiba saja mengingatmu, dalam sebuah kenangan yang asing. Tentang kuncup yang tak jadi dimekarkan. Waktu yang berlalu telah membekukannya dalam ceruk hati. Karenanya dia abadi. Tidak menjelma bunga yang mekar semusim lalu angin menerpanya menjadi kelopak yang berserak. Tetaplah seperti itu, dan ingatan tentangnya biarlah mengisi sisa waktu perjalanan.
Gerimis Yang Menampar
Gerimis yang membasahi malam, paduan sempurna kesunyian dan kegetiran yang menyayat. Tiba-tiba seperti kerumunan janin sajak menagih jawab. Kapan akan dilahirkan? Ah, bertahun sudah memenjara jiwa dalam kebun yang kering. Gerimis, terima kasih telah menampar.