Karya: Y. Wibisono Lalu kau sentuh kaki perempuan itu, kau letakkan kepalamu di pangkuannya. Kau rasakan, betapa pipimu dipenuhi kehangatan kasih yang selalu kau damba sejak belia. Dengan pelan, kau ucap: “Ibu, sudah bolehkah aku menikah?” Perempuan itu tersenyum. Ia menyentuh rambutmu, lalu menelusuri dari pangkal sampai ujung. Berkali-kali. Ah, kau ingin itu abadi. Jemari…
Month: August 2006
Gadis Yang Menulis Puisi
Karya: Y. Wibisono Gadis yang berdiri di simpang usia itu, sangat ingin membenci waktu. Baginya, waktu hanya seperti angin, sahabatnya yang lain. Tak pernah benar-benar di sisinya, terus mengalir dan hanya menyisakan peristiwa- peristiwa yang harus dikenang. Ketika ia akhirnya sampai di simpang ke-19, ia berkata pada masa remajanya: “Maukah kau untuk terus bersamaku?” Masa…
Ega
Karya: Y. Wibisono Dengan seolah bersungguh, pria itu berbisik kepadamu: “Telah aku taruh sepotong sajak, di salah satu sudut meja. Pada bagian yang paling rahasia. Adakah kau temukan?” Kau boleh tersipu, tapi tak perlu takut. Ia hanya pria, Ga. Seorang pria, yang bersenandung tentang hasrat purba. Ia membayangkan, dalam kilau cahaya, dan alun melodi bossas,…
Lelaki dan Rembulan [3]
Karya: Y. Wibisono Lelaki yang tersungkur bersimbah darah itu mengaku telah mencabik wajah dan hampir seluruh tubuhnya. Ia telah bersalah dan memohon kekasihnya untuk menghukum. Ia telah berselingkuh dengan rembulan. Kekasihnya tak memaafkan, tak menghukum, dan hanya memberi pilihan :dirinya atau rembulan. Lelaki itu menghukum diri atas kesalahannya, tapi untuk pilihan itu ia putuskan untuk…
Lelaki dan Rembulan [2]
Karya: Y. Wibisono Lelaki itu terus memohon kepada Tuhan, agar kiranya sudi mengubah dirinya menjadi kanak lagi. Ia sudah membayangkan sebuah tempat, sebuah padang rumput dengan sedikit semak di tengahnya. Ia ingin di suatu malam, bertelanjang dada tanpa sepatu mengendap dalam semak itu. Sekedar ingin tahu siapakah raksasa yang selalu memangsa rembulan itu. Menyisakan irisan…
Lelaki dan Rembulan [1]
Karya: Y. Wibisono Lelaki itu sangat ingin memanah rembulan. Tepat di tengahnya. Darah yang memancar ia harapkan akan membuat seluruh malam berwarna merah. Ia tak suka malam yang pucat! Karena bidikannya selalu meleset, dan setelah bertimbang segala sesuatunya, maka malam itu ia putuskan untuk memanah jantungnya sendiri. Samarinda, 8 Agustus 2006
Partitur Setengah Jadi
Karya: Y. Wibisono Ia yang mengaku bernama malam, mendatangiku di satu waktu. Entah kapan itu. Tanpa senyum, tanpa salam. Aku tak terganggu. “Apakah pesananku sudah jadi?” Benar, ialah yang telah memesan lagu padaku. Pesanan yang telah menghabiskan hampir seluruh waktuku. “Belum, komposisinya tak mudah. Kau terlalu banyak meminta nada minor.” “Ah, kau pasti bisa. Selesaikanlah….