Partitur Setengah Jadi

      Comments Off on Partitur Setengah Jadi

Karya: Y. Wibisono

Ia yang mengaku bernama malam, mendatangiku
di satu waktu. Entah kapan itu. Tanpa senyum,
tanpa salam. Aku tak terganggu.

“Apakah pesananku sudah jadi?”

Benar, ialah yang telah memesan lagu padaku.
Pesanan yang telah menghabiskan hampir seluruh
waktuku.

“Belum, komposisinya tak mudah. Kau terlalu
banyak meminta nada minor.”

“Ah, kau pasti bisa. Selesaikanlah. Kali ini aku
akan menemanimu, hingga selesai. Dan seperti kau
tahu, waktuku selalu terbatas. Buatlah spesial. Aku
tak mau ada yang mirip. Jadikan ia, satu-satunya laguku,
lagu malam.”

“Maaf, ada sedikit masalah. Dulu senja juga memesan
lagu padaku. Dengan banyak nada minor juga. Lagunya
berakhir tepat pada nada yang menjadi awal dari lagumu.”

Ia terkejut. Seperti memekik. Aku ikut menggigil. Tapi
sekejap iapun lembut, seperti aslinya.

“Tak bisakah itu dibuat beda?”, bisiknya. Aku semakin
merasa dekat. Ia yang kutahu dari semula, memang
seharusnya selalu berbisik,tak pernah berteriak.

“Bisa. Tapi berarti aku harus mengubah seluruh komposisi.
Itu akan butuh waktu lama, seperti membuat ulang dari awal.
Maukah kau?”

Ia terpekur, mungkin bersedih. Tiba-tiba rambutku, kulitku
berselimut embun. Apakah ia menangis?

Kembali ia tersenyum. Ah, nampaknya aku mulai menyukainya,
amat menyukainya. Ia mudah dan pandai mengatur perasaan.

“Hmm, biarlah jika demikian. Aku tak bisamenunggu lebih
lama lagi. Tapi, maukah kau jujur, apakah lagu milik senja itu
lebih bagus?”

Kali ini aku yang tersenyum. Ternyata ia bisa begitu
kekanak-kanakan.

“Tak lebih baik dan tak lebih buruk. Tak bisa dibandingkan.
Aku membuat lagu untuk senja dalam tempo cepat. Sedang
lagumu kubuat lembut. Memang seperti tak bertenaga, tapi
enak dinyanyikan. Bahkan walau hanya dengan bersenandung.”

Ia tersenyum. Lebih manis dari semua senyum yang ada. Lalu
akupun meneruskan komposisi itu dan ia menungguiku, memberi
semangat padaku. Aku bergelora. Ia bergelora. Aku menulis notasi
dengan bersenandung, ia mengiringi. Ah, aku sungguh ingin ini abadi.

Tiba-tiba ketika kulirik ia, wajahnya memucat. Aku berhenti
menulis. Tepat ketika aku hendak menyelesaikan bagian akhir.

“Hei, kau sakit?”

Ia menggeleng lemah. Tanpa kusadari rambut, kulit dan bajuku
telah penuh embun. Apakah ia menangis lagi?

“Kau lupa ya, waktuku sudah hampir habis. Tengoklah ke timur”,
ia mencoba tersenyum walau nampak semakin pucat.

“Tunggu, tak bisa demikian. Aku tinggal menyelesaikan bagian
akhir. Bertahanlah sebentar.”

“Tak bisa, kekasih. Biarlah bagian akhirnya kuselesaikan sendiri.
Jangan bersedih. Kelak, jika aku benar mampu melengkapinya,
akan kutunjukkan. Oh ya, aku amat menyukai bagian reff-nya.
Itu amat mewakili diriku.”

Kurasakan sesuatu yang begitu hangat. Apa ia sedang memelukku?
Tapi ini tak cukup menghiburku. Ini tak adil, mengapa waktu
demikian kejam?

Nampaknya ia benar-benar telah pergi. Kemudian aku meradang
dan sebenarnya sangat ingin memaki fajar, tapi tak jadi. Tak baik.
Siapa tahu suatu saat fajar akan memesan lagu padaku?

**

Kini, entah sudah berapa lama itu terjadi. Ia tak pernah
mengabariku, apalagi berkunjung. Sudahkah ia selesaikan
bagian akhir lagu itu?

Pada sebuah malam yang datang, aku tanyakan adakah ia
kenal pada sebuah malam lain, malam yang dulu pernah
kubuatkan lagu tapi tak sesesai? Sembari malu, kukatakan
pula bahwa si malam itu pernah memelukku, serta kami pernah
bersama dengan penuh gairah. Adakah pernah bertemu?

“Mungkin pernah, mungkin juga tidak. Banyak sekali malam
seperti kami. Kau akan sulit membedakannya.”

“Tapi ia beda. Amat berbeda. Seharusnya ia merinduku.
Bahkan, ah benar, ia pernah memanggilku kekasih.”

Ia tertawa, tapi ditahan seperti tak ingin menyakiti
perasaanku. Tapi tetap saja aku tahu ia sedang
mentertawakanku.

“Berharaplah suatu saat ia akan datang. Tapi itu jelas tak
mungkin baginya. Ia adalah lalu, dan selamanya begitu. Begini saja.
Maukah kau buatkan lagu untukku? Lagu tentang rindu saja,
rindu tentang sesuatu yangtak pernah kembali. Dengan melodi
yang beda dari semua lagu yang pernah ada.”

Lalu akupun mencipta lagu rindu, tapi tetap dengan tanya
menggayut di kepalaku. Bagaimana kekasih malamku yang dulu
itu, menyelesaikan bagian akhir lagunya?

Samarinda, 3 Agustus 2006