Karya: Y. Wibisono (untuk gadis D, pengganti souvenir yang tak sempat kukirim) (1) sebatang sungai berkelok di antara hati yang meragu dan di muaranya aku masih saja memilin pintalan cerita dengan akhir yang selalu ambigu barangkali masih ingin kuceritakan lebih lengkap lagi tentang bisikan daun-daun gmelina dan keluh kesahnya tentang hujan yang tak mampu didekapnya…
Author: wibi
Perjalanan 3
Karya: Y. Wibisono akupun berkemas melipat senyum di dalam koper :selamat berjumpa kembali dengan debu perpisahan ini tak akan dikenang seperti daun yang jatuh ditiup angin seekor tupai dan ranting akasia meringkuk ditelan sepi seperti keringnya mimpi kami tentang warna-warna emas bulir padi dan sekawan pipit yang bernyanyi tentang panen dan orang-orangan sawah kembali kami…
Perjalanan 2
Karya: Y. Wibisono mahoni tua itu ternyata masih mengenaliku dan segera saja kami akrab berkelakar tentang lelaki yang hatinya gersang seperti tebing-tebing kapur dengan garis hitam melintang di kejauhan lalu aku bilang: anginmu kering seperti musimmu yang kering bahkan hujan semalampun adalah hujan yang meradang dan layaknya arus di riam udang ceritamupun mengalir deras ke…
Kota Ini Sakit Jiwa
Karya: Y. Wibisono seorang gadis telah berpisah dengan air mata dilipatnya selaput dara lalu bergegas ke pasar lelang seorang lagi ketawa sendiri di depan cermin bermimpi kawin dengan matahari di pertigaan muara seorang anak jalanan telah memanah matahari matahari yang terluka lapor ke polisi dicatat petugas jaga, tunggu semua pasukan lagi di lapangan menjaga pasar…
Sebuah Pesan
Karya: Y. Wibisono [untuk Bramantyo Wibisono] pagi ini kau kejutkan kami semua kau berdiri! meski tanganmu masih lekat di meja tak lagi kau merayap, merangkak dan berguling mengelilingi dunia tumbuhmu sebentar lagi tinggalkan meja itu nak juga tinggalkan sebentar tangan mamamu cobalah melangkah, dengan kaki sendiri meski berat tapi banggalah kau lelaki berjalan dengan kaki…
Sebuah Rindu
Karya: Y. Wibisono [untuk gadis T yang akan berhari jadi] angin dan kabut tiba-tiba menjelmakan bayangmu di kaca jendela dengan gaun yang meniupkan seribu kenangan aku menggigil, melayang dan lesap di sudut pagi yang membekukan tulang belulang di belasan bukit yang terlewat, ngarai-ngarai yang terkubur dengan inspirasi yang dihamburkan seperti daun musim gugur hanyalah sketsa…
Rindunya Hitam
Karya: Y. Wibisono baginya, rindu itu sudah begitu menggelora dipintalnya dengan airmata, dibungkusnya dengan kasih dan dihantarkannya padamu dengan malu, kelak tapi disadarinya rindunya rindu hitam mengucap namamupun dia tak berani membayangkanmupun dia bersembunyi maka, ditaruhnya rindu itu di atas pelangi Samarinda, 11 Maret 2004
Mimpiku Di Bumi Etam
Karya: Y. Wibisono mimpiku di bumi etam adalah pertiwi yang bernanah darah menetes dari gaunnya yang terkoyak tercabik-cabik ranting kering yang menyisakan luka hitam dan airmata tak bersisa mimpiku di bumi etam adalah bukit-bukit yang terpanah rebah rimba perawan yang terjamah kasar, terlentang hingga berbilur-bilur kulit gunung dikelupas bagai koki menggarap sapi dan kaki kita…
Rindu Perempuanku
Karya: Y. Wibisono (sajak untuk Tatik) Subuh ini aku telanjang terkapar sepi, terasing rasa. Gerimis dingin berlomba menampar, menyeret. Lalu menggantung sangkut anganku di paku tiang jemuran. Maka, perempuanku. Sebenarnya aku tak pernah bisa menghapusnya. Bagai duri menikam, mengiris. Menghantam lempar aku lelaki pengecut. Dalam wajah bertopeng sesal. Merunduk, mengais-ngais jejak alasan yang telah luntur…
Ini Aku, Anakmu
Karya: Y. Wibisono jiwa ini adalah rajutan kalian, aduhai merangkai do’a di sudut malam menitip sembah bakti pada sang angin (Samarinda, 1998)