Si Wanita Besi Yang Inspiratif

      Comments Off on Si Wanita Besi Yang Inspiratif

Tidak banyak orang yang bisa setangguh Muniba Mazari, perempuan asal Pakistan ini. Dilahirkan di keluarga Baloch yang sangat konservatif, Muniba menikah pada usia 18 tahun. Setelah dua tahun menikah, ia mengalami kejadian yang mengubah seluruh hidupnya. Berdua bersama suaminya yang menyetir, mereka menikmati perjalanan di dekat distrik Jacobabad dan mobilnya terperosok ke parit yang cukup dalam. Suaminya berhasil melompat, tapi Muniba terperangkap di dalam mobil. Muniba cidera parah, tapi ia tidak kehilangan kesadaran. Ia masih mengingat ketika orang-orang yang berjuang mengeluarkannya dari mobil kebingungan bagaimana menyelamatkannya. Itu lokasi yang sangat terpencil. Tidak ada rumah sakit dan ambulans. Akhirnya Muniba diangkut menggunakan jip ke rumah sakit yang berjarak 3 jam perjalanan. Ia tidak pingsan, karenanya ia bisa merasakan kesakitan yang luar biasa di jalan yang bergelombang.

Dua setengah bulan dirawat di rumah sakit, tiap saat ia harus menerima ketika dokter menjelaskan satu per satu bagian tubuhnya yang tidak berfungsi lagi. Keluar dari rumah sakit ia belum mampu duduk dan harus terbaring di ranjang selama dua tahun. Ia nyaris putus asa. Satu-satunya yang membuatnya kuat adalah kata-kata ibunya: “Tuhan pasti punya rencana besar untukmu.”

Ketika akhirnya ia bisa duduk di kursi roda, ia menandai hari itu sebagai hari kelahirannya yang kedua. Ia bertekad untuk menghadapi hidup dengan cara baru. Muniba mengawalinya dengan menulis semua hal yang ia takuti hingga berbaris-baris. Lalu dipilihnya 3 hal yang paling ia takuti dan ditaruhnya di daftar paling atas. Ia bertekad untuk menghadapinya.

Pertama, hal yang paling ditakutinya adalah perceraian. Muniba lalu berbicara dari hati ke hati dengan suaminya, memintanya agar dia menceraikannya, dan sepenuhnya mengizinkannya menikah lagi. Ketika akhirnya suaminya menikah lagi, Muniba mengiriminya ucapan selamat dan doa kebahagiaan.

Kedua, ia takut menyadari kenyataan bahwa kecelakaan itu telah membuatnya tidak mungkin memiliki anak. Tapi Muniba seperti menemukan cahaya ketika menyadari bahwa betapa banyak anak-anak yang terlahir dengan tanpa kasih sayang seorang ibu. Ia lalu mengadopsi seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Neal.

Ketiga, ia sangat takut bertemu orang-orang. Selama dua setengah bulan dan dua tahun penyembuhan, ia selalu meminta kepada ibu dan saudara laki-lakinya agar menutup pintu dan menghindarkannya dari orang lain. Ia sangat tidak ingin orang-orang tahu kondisinya yang lumpuh dan cacat. Tapi ia ingin menghadapinya. Ia membuatnya terbalik. Ia mencari cara dengan menghubungi banyak pihak, yang memungkinkannya untuk bertemu dengan sebanyak mungkin orang, memotivasi mereka dengan kisahnya.

Dan begitulah kehidupan Muniba selanjutnya. Ia dikenal sebagai the iron lady dari Pakistan. Karena semangat hidupnya yang luar biasa dan juga karena begitu banyak titanium yang ditanam di tangan dan tulang punggungnya agar ia bisa duduk di kursi roda.

Muniba benar-benar terlahir kembali. Dulu ia hanya seorang gadis Baloch biasa. Kini, ia adalah National Ambassador for UN Women Pakistan. Tampil sebagai pembicara dan motivator di berbagai forum termasuk di TEDx Islamabad. Di tahun 2015 ia adalah salah satu dari 2 perempuan Pakistan yang masuk di BBCs 100 most inspirational women. Ia juga seorang penyiar di PTV, penyiar pertama yang menggunakan kursi roda. Tak hanya itu, Muniba juga menjadi model di Tony & Guy sebuah salon kecantikan rambut international, masuk di Forbes under 30 di tahun 2016 dan juga sebagai kepala CSR di Chughtai Labs.

Semua orang mencintainya. Wajahnya gemilang saat tampil berkisah tentang hidupnya di hadapan orang-orang yang menyimak dengan perasaan haru bergelora. 
Kata-katanya sangat menginspirasi, membuka banyak pikiran kelam menjadi benderang.

“They call it adversity I call it opportunity. They call it weakness I call it strength. They call me disabled I call myself differently abled. They see my disability, I see my ability. Problems are not too big. We are too small because we cannot handle them.”