Karya: Y. Wibisono

Ini hanya tentang sejumlah tubuh, biru
dan lebam. Tersangkut batu, pasir, ranting
dan sampah. Beberapa merintih. Beberapa
diam, selamanya.

Jerit itu bermula dari ujung banda. Lalu
menggema di selatan Jawa. Dan selekas
kau terhenyak, selekas pula kau lupa.

Bisakah kau rasa, beda airmata dan darah?
Tubuh membusuk dan luka bernanah?

Di Aceh, Bantul, Pangandaran:
ada aroma kami di sana. Masih ada:
pada batu, pasir, ranting dan sampah. Benar,
tak hanya di sana. Kami ada di sejumlah
lainnya. Adakah kau hafalkan?

Sebab kami hanyalah angka, bagimu.
Sejumlah angka, yang terus kau nikmati
di layar televisimu. Kau hitung dengan jari
tangan jari kaki lalu karena angka itu tak juga
berhenti sambil meringis kau hitung juga
dengan rambutmu.

Sebab kami hanyalah angka, bagimu.
Seperti rupiah yang tertata rapi di layar
kacamu. Lalu, ah, mari terus bicara.
Mari menabur janji, selagi kita
masih bisa mengibuli.

Sebab kami hanyalah angka, bagimu.
Adakah angka-angka punya rasa?

Samarinda, 31 Juli 2006