Penyeberangan Malam

      Comments Off on Penyeberangan Malam

Sepotong cerita semalam. Angin membawa udara dingin dan basah. Hampir pukul sembilan ketika kami memasuki dermaga kecil tadi malam. Langit tanpa cahaya. Kerumunan lampu berkerlip di kedua sisi sungai. Namun Mahakam sungguhlah gelap. Saat feri tradisional itu hendak bergerak meninggalkan sisi dermaga penyeberangan, saya turun dari kendaraan. Kali ini bukan tentang rindu merasakan angin malam Mahakam. Ini tentang hal lain. Di rumah kapal bagian belakang, saya bertemu si jurumudi. Seorang pemuda Kutai yang ramah. Setelah berbasa-basi, saya mendekat ke salah satu dinding, tergantung tiga benda berbentuk lingkaran berwarna merah di situ. Bertuliskan lifebuoy. Itu yang saya cari. Pelampung. Menyeberangi Mahakam dalam gelap selalu ada resiko. Dalam kenikmatan ayun ringan gelombang sungai yang coklat gelap ini, tersembunyi bahaya mengincar. Data statistik menunjukkan dari waktu ke waktu selalu ada kecelakaan di Mahakam. Dengan korban jiwa. Dari soal kelebihan muatan, kapal bocor, hingga menubruk ponton yang ditarik tugboat. Yang terakhir ini sangat mungkin terjadi dalam kegelapan seperti ini. Jika terjadi kecelakaan, seorang perenang hebat pun tak mudah menaklukkan arus sungai sederas dan selebar ini. Jika menggunakan pelampung, akan menghemat banyak tenaga, meski entah akan menepi di hilir sebelah mana. Apalagi saya bukan jago renang. Saya periksa pelampung itu, memastikannya mudah untuk digunakan sewaktu-waktu. Jumlahnya hanya tiga saja. Pas untuk kami, saya bertiga bersama seorang rekan dan sopir. Awak kapal ini berdua, si jurumudi dan tukang pandu sekaligus yang megikat rantai ke tiang dermaga. Mereka adalah anak muda yang besar di Mahakam, mungkin tak perlu pelampung. Entah, bagaimana jika penumpang sedang penuh, dengan hanya tiga pelampung ini?
Lampu kapal tradisional ini tak cukup terang. Suara mesin seolah berlomba dengan degup jantung. Tak lama terdengar derak yang melegakan. Itu suara tumbukan ujung depan feri dengan dermaga. Akhirnya kami menyeberang dengan selamat, meninggalkan dermaga dengan kelegaan. Sepanjang perjalanan pulang, gemercik Mahakam tetap terasa, bahkan hingga sampai di rumah.