Migrasi Software, Selalu Bikin Harap-Harap Cemas

      Comments Off on Migrasi Software, Selalu Bikin Harap-Harap Cemas

Waktu kita sekolah, sering membayangkan menjadi mahasiswa. Setelah jadi mahasiswa, membayangkan kalau sudah kerja. Lalu -yang biasanya critical- kita mulai membayangkan bagaimana kalau sudah menikah, punya anak, lalu punya cucu!

Di kantor sama juga, dari staff membayangkan menjadi supervisor, lalu manager, lalu GM, lalu .. Intinya adalah dalam perjalanan hidup selalu ada step di depan kita yang kita tunggu dan kita bayangkan. Biasanya selalu harap-harap cemas. Kita penasaran ingin segera tahu rasanya, sekaligus cemas akan segala konsekuensi yang mengikuti.

Yang menarik, setelah moment tersebut benar-benar terjadi kita bahkan tidak memikirkannya. Tahu-tahu berjalan apa adanya, dan harap-harap cemasnya tiba-tiba berganti untuk sesuatu yang lain lagi.

Begitu juga dengan urusan migrasi software. Pengalaman pertama saya masuk ke perusahaan, rupanya sedang ada perhelatan besar. Seluruh aplikasi sedang dimigrasi dari COBOL ke Clipper. Sebagai karyawan baru yang kebetulan hanya menyukai COBOL di bangku kuliah, saya happy karena Clipper lebih familiar. Dan demikianlah, proyek besar dimulai. Semua aplikasi have to migrate to Clipper. Berjalan beberapa tahun, dan muncullah kemudian era GUI sekaligus era Client Server. Dari sekian banyak pilihan tool, akhirnya jatuh ke PB. Harap-harap cemas lagi. Modul yang sudah exist cukup banyak, puluhan bahkan jika yang kecil-kecil dihitung bisa hampir 3 digit (ini sebenarnya karena design yang serba parsial saja, mestinya bisa lebih efisien). Dan ketika mulai dilakukan migrasi, datanglah lagi rasa itu; cemas, ragu dan serba keringat dingin. Maklum, transaksi user sudah sedemikian banyak dan tidak ada istilah stop. Perubahan dari xBase ke RDBMS bukan masalah ringan. Akan ada masa paralel, sampai benar-benar jalan lalu yang lama di-kill, langsung berlanjut yang baru. Walau berat, 75% dari modul yang ada berhasil dimigrasikan. Sisanya -dengan pertimbangan tertentu- dibiarkan apa adanya.

Setelah jalan beberapa lama, dan keringat mulai kering datanglah era web-based. Wow, saatnya membangun intranet! Beberapa modul dievaluasi dan memang akan lebih efektif jika diubah ke web-based. Datang kembalilah masa-masa “keindahan” peralihan itu, walau tak seberat sebelumnya karena database tidak perlu dimigrasi. Meski tambal sulam, beberapa modul sudah mulai muncul di halaman intranet.

Sempat bernafas sebentar, di luaran mulai rame ERP. Tengok sana-sini, cari-cari (plus curi-curi) referensi, adakan beauty-contest, dan terpilihlah salah satu vendor dengan harga yang agak friendly. Sip, sepakat 4 modul akan diimplementasikan (sampai saat tulisan ini dibuat, baru implementasi 2 modul). Ada perubahan RDBMS, plus sejumlah support yang harus disediakan. Dengan hanya ambil 4 modul, berarti masih ada sejumlah aplikasi lain yang tetap harus dipikirkan.

Dan terakhir, ada sebuah tool baru lagi yang sedang bikin harap-harap cemas. Seperti dulu-dulu, dengan serba berkeringat dingin. Namanya .NET!