Bahwa kualitas suara Briptu Norman lumayan, tidak seperti artis lipsync sebelumnya, kita mengakui itu. Bahwa gaya joged India-nya amat menghibur, menggoda orang untuk ikut berlenggok, itu memang benar. Kita tentu juga sangat menyambut baik, jika Briptu Norman ini akan menjadi momentum bagi kepolisian untuk lebih dekat ke masyarakat. Tidak lagi bertahan pada sebuah institusi yang garang, arogan, dan untouchable, menjadi aparat keamanan yang benar-benar dapat memberikan rasa aman sekaligus nyaman pada warga masyarakat.

Briptu Norman sungguh orang yang beruntung. Seperti yang nampak di tiap wawancara, orangnya polos, tidak macam-macam, sehingga wajar jika publik suka kepadanya.

Entah mana yang lebih dominan, profesinya sebagai anggota brimob atau kualitasnya sebagai penghibur, yang membuatnya sangat cepat terkenal.

Jika mengandalkan kualitas suara serta kepintaran berjoged, kalau mau jujur dalam beberapa ajang seperti Indonesian Idol atau AFI, cukup banyak yang kualitasnya di atas Norman tapi gugur dalam penyisihan. Para pemilik talenta ini tidak seberuntung Norman. Jangankan mereka, bahkan para pemenang di kontes itupun juga tidak semua bernasib baik bisa seterkenal Norman.

Jika mengandalkan profesinya sebagai anggota Brimob saja, dengan pangkat Briptu di daerah Gorontalo, tentu hal yang amat luar biasa sampai dipanggil ke Jakarta, beramahtamah dengan Kapolri serta didampangi pejabat Polri dalam konferensi pers.

Barangkali ini adalah sebuah kombinasi yang sangat unik, seorang briptu anggota brimob, punya talenta berjoged dan bernyanyi.

Tapi, tentu tidak elok jika Norman dan kita semua tenggelam dalam euforia yang berlarut. Kepopuleran Briptu Norman memang meledak bagai bom. Tapi pada saat yang sama, bom yang asli telah meledak di sebuah masjid di Cirebon ketika imam sedang memulai memimpin sembahyang Jumat.

Kita tentu menyambut dengan sangat baik, jika benar institusi kepolisian serius ingin mengubah citra menjadi aparat keamanan yang dekat dengan masyarakat, menjadi lebih ramah dan manusiawi, sehingga lebih dicintai oleh masyarakat. Kejadian Briptu Norman dapat menjadi momentum, tapi tentu saja tidak bisa instan, tapi lewat proses dan langkah nyata yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Tentu terlalu menyederhanakan, jika menganggap Norman dapat menjadi semacam ‘image laundry’, yang bisa menyulap citra kepolisian begitu saja.

Bahkan, jika ini tidak dilakukan dengan tulus, maka akan kuat dugaan seperti yang sudah-sudah, bahwa para petinggi kita biasa bermain dalam pengalihan isu. Manusia hanya punya sepasang mata dan sepasang telinga. Ada keterbatasan bagi kita untuk tetap fokus pada semua hal, maka hal baru akan mudah menutupi hal yang lama.

Karena itu, sudahlah. Tidak elok jika berlebihan. Masih banyak pekerjaan rumah aparat penegak hukum kita. Terorisme jelas masih menjadi ancaman nyata, walaupun dalam beberapa waktu terakhir aparat telah berhasil melumpuhkan para tokohnya. Negara kita adalah negara hukum, tapi cukup banyak keadilan hukum yang jadi pertanyaan. Kasus meninggalnya aktivis Munir, hingga sekarang kita tidak tahu kejelasannya. Yang paling hangat adalah kasus Antasari Azhar. Ini salah satu ujian besar bagi negara, apakah layak untuk menjadi sebuah negara yang mampu menegakkan hukum dan memberikan rasa keadilan bagi warganya. Sebuah nyawa sudah melayang, dan putusan 18 tahun penjara tentu bukan hal yang main-main. Mari kita dukung Komisi Yudisial yang akan mengkaji tujuh kejanggalan dalam penanganan kasus ini. Tujuannya hanya sederhana, agar masyarakat menjadi yakin bahwa hukum memang dibuat untuk memberikan rasa keadilan, yang seadil-adilnya.

Jadi Briptu, boleh untuk terus berdendang menghibur kita, tidak apa-apa walau ini lagu India. Tapi mari sama berjanji; bahwa ini tidak akan berlebihan. []