Jalan Perempuan

      Comments Off on Jalan Perempuan

Ia mengenali perempuan dari cara berjalan. Sesuatu yang ia sendiri sebenarnya sulit untuk menjelaskan. Itu bukan gerakan tunggal, tapi paduan gerak yang utuh sebuah orkestra yang lembut. Seperti tungkai kaki yang memimpin lalu diikuti dengan gemulai oleh paha, pinggul, pinggang, lalu ditutup dengan lengan yang mengayun ringan. Tapi tetap saja itu tak mampu melukiskan dengan persis seperti yang ia pahami. Sudah puluhan, ratusan, mungkin tak terhitung lagi ia mencari di banyak tempat. Di panggung hiburan, ia menemu wanita-wanita yang enggan menutup tubuh mereka yang bercahaya, berlenggok melangkah mengikut irama menggoda, tapi ia tak menemu perempuan. Juga di panggung busana, wanita-wanita bertubuh tinggi ramping, beberapa malah begitu tipis berjalan dengan teratur. Tetap, ia tidak menemu perempuan di sana. Mereka wanita. Perempuan baginya, hanyalah yang berjalan seperti perempuan.

Sudah dua hari ia di tempat itu, hari ini ia masih harus bertemu beberapa orang lagi. Ia sedang berjalan menuju tempat pertemuan, ketika perempuan itu melintas. Ia tak yakin atas penglihatannya, tapi itu memang benar perempuan. Sejenak darahnya berdesir. Setelah sangat lama, inilah yang ia cari, tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa. Ditatapnya saja perempuan itu yang sedang melangkah pelan di trotoar. Ia mengikuti di belakang dengan perlahan. Tak ingin kehilangan dan tak ingin diketahui. Setiap ujung kaki perempuan itu menyentuh wajah trotoar, ada yang bergemuruh di dadanya. Perempuan itu terus melangkah, pelan dan ringan. Bajunya menutup hingga rapat di leher yang bersih dengan rambut yang bergerai lembut diterpa angin sore itu. Ia memakai celana panjang dari bahan yang halus, tidak membungkus rapat tapi ia yakin kaki perempuan itu indah. Tapi bukan itu yang membuatnya gemetar. Perempuan itu berjalan seperti perempuan.

Ia terus mengikuti, dengan jarak yang selalu sama. Ia melambatkan jalan, pura-pura memandang ke arah lain saat perempuan itu berhenti sejenak. Nampaknya perempuan itu tak menyadari ada seseorang yang mengikuti. Dan ia ingin tetap seperti itu. Di setiap tempat perempuan itu berhenti, ia berhenti sejenak pula. Menduga-nduga apa yang ia cari, apa yang ia sukai. Perempuan itu berhenti agak lama di depan etalase toko, memandangi dengan bersungguh seperti sedang tertarik, tapi akhirnya meneruskan langkah begitu saja. Ia penasaran dan melihat juga ke etalase. Banyak topeng-topeng wajah wanita di situ, wajah-wajah perempuan palsu. Ia berusaha menduga, apa yang membuat perempuan itu tertarik, tapi meski merenung lama ia tak menemukannya. Ia terus mengikuti langkah perempuan itu. Beberapa saat lagi mereka akan melalui simpang empat lampu merah yang sunyi. Tapi tiba-tiba perempuan itu berbelok ke kiri, berhenti beberapa saat lalu masuk ke sebuah lorong yang kecil. Ia terkejut dan mempercepat langkah. Ia masih menemukan punggung perempuan itu. Sore sudah beranjak senja, beberapa lampu kota mulai menyala. Cahaya lemah di ujung lorong, membentuk bayangan perempuan yang melangkah lembut dan pasti. Ia tertegun dalam persimpangan. Ia sedang ditunggu orang-orang untuk satu urusan. Dan untuk tujuan itulah ia datang ke tempat ini dengan biaya yang tidak murah. Tapi perempuan itu, ia telah mencari ke seluruh negeri, dan ia sungguh tak ingin kehilangan.

Bayangan perempuan itu kian mengecil, tapi ia masih melihat jelas ayunan langkahnya, langkah perempuan. Sesaat ia masih termenung, sebelum akhirnya mengambil keputusan bulat. Pertemuan dengan orang-orang di sore ini sangat penting, dan seluruh tujuannya ke kota ini adalah untuk itu. Tapi, perempuan itu adalah tujuan hidupnya.

Dengan pasti ia melangkahkan kaki ke lorong, menelusuri jejak yang mengabur. Di ujungnya, ia masih melihat bayangan tubuh lembut yang mengayun .. []