Adakah yang bisa menanggung sakit seperti ini? Terhina, malu, marah, tanpa bisa melampiaskan? Seorang pemimpin mengambil kakak perempuannya. Bukan untuk dinikahi, tapi diberikan kepada saudaranya yang tuna netra.

Sejak berangkat merantau dari daerah Plasajenar, keinginan Suman hanya sederhana, menemukan jodoh terbaik untuk kakak perempuannya yang rupawan. Dendam sudah begitu menggunung dalam dadanya. Tapi tak mungkin ia marah pada pemimpin itu. Kakaknyapun didapatkan melalui sebuah pertarungan, -sesuatu yang wajar dilakukan oleh para ksatria- yang tenyata sangat tidak seimbang. Ia sama sekali bukan lawan yang sepadan bagi orang itu. Gelapnya dendam, ternyata memunculkan sinar harapan yang aneh. Ia memilih cara yang lain. Mengubur amarahnya dalam-dalam, dan membungkus dendamnya dengan perilaku manis kepada orang-orang. Termasuk kepada pemimpin itu. Dan ia mulai mendapatkan kepercayaan. Satu per satu ia mulai menyingkirkan orang-orang di sekitar istana. Dengan cara yang sangat halus.

Kini, ia mulai diperhitungkan orang. Suman, seorang politikus muda tampan dari Plasajenar yang lemah lembut. Sayang, tak semua rencananya berjalan dengan sempurna. Satu waktu, di tengah upayanya menyingkirkan orang-orang istana, ia keliru memilih korban. Gandamana, si wakil pemimpin, terlalu tangguh untuknya. Walau ia berhasil menyingkirkannya dari istana, tapi Gandamana telah meninggalkan kenangan hebat pada hidupnya. Merusak wajahnya yang tampan, menghajar tubuhnya hingga tak lagi mampu berdiri tegap. Tapi, lagi-lagi ia menemukan sinar harapan yang aneh. Ia buang jauh-jauh masa lalunya. Tak ada lagi Harya Suman anak muda tampan dari Plasajenar. Tak ada lagi si Trigantalpati pujaan gadis-gadis Plasajenar. Di tengah kebenciannya, ia anggap Gandamana telah menyempurnakan rasa dendamnya. Kini tak ada lagi yang ada dalam pikirannya, selain kegelapan dendam. Sejak itu, ia hanya ingin dipanggil dengan nama singkat, Sengkuni. Wakil pemimpin Astina yang lemah lembut, licik, dan penuh tipu daya.

Sengkuni, patih negeri istana telah tak ada di muka bumi. Tapi Sengkuni terus bermunculan di sepanjang peradaban. Ia bukan Cakil, tokoh jahat yang tak pernah berpura-pura baik. Ia bukan pula Sri Kresna, raja besar yang lebih memilih peran di belakang layar demi kebaikan umat dan masyarakat. Sengkuni memilih berlaku manis dan berperan di belakang layar, demi kepentingan pribadi, dan menebar kehancuran pada orang-orang baik yang tak ia sukai.[]