Dalam Sepotong Ayam Bakar

      Comments Off on Dalam Sepotong Ayam Bakar

Hari ini dua anak cowok UKT Taekwondo di kampus Polnes. Bayu ujian pagi, tapi Mas Bram giliran siang. Sambil menunggunya, kami bersepakat menikmati kuliner di Loa Janan. Melintasi Sumalindo, saya terkenang 14 tahun tumbuh dan belajar di dalamnya. Juga beberapa tempat makan siang dulu. Tentang rumah makan Sumber Baru, juga almarhum Toni pemilik warung sop buntut pinggir sungai yang mahal tapi enak. Paling enak se-Samarinda menurut saya.

Akhirnya kami memutuskan makan siang di ayam bakar KM 1 Loa Janan. Pertama kali saya makan di tempat ini tahun 1993, dan warung ini sudah ada jauh sebelum itu. Warung yang khas dengan menu yang khas pula. Pemiliknya, si Pak Haji dan istri, melayani sendiri pelanggannya. Mereka kini sudah mulai sepuh, namun tetap seperti dulu, tak banyak bicara namun ramah. Seperti biasa di warungnya ada beberapa ekor kucing kampung yang terawat. Kucing-kucing ini tentu telah beberapa generasi, tapi tetap dengan perilaku yang sama. Tak pernah mengganggu tamu yang makan. Tentang hal ini, pemiliknya pernah memberi tahu rahasianya. Kucing-kucing itu punya jadwal makan tetap dengan porsi cukup dan kualitas terjaga. Kucing-kucing yang tak pernah kelaparan. Bahkan saya nyaris tak pernah mendengar mereka mengeong.

Menu warung ini juga spesial. Ayam bakar yang penyajiannya dipotong-potong dengan pisau hingga bekas irisannya terlihat jelas lalu disiram dengan saus khusus. Rasanya tak pernah berubah sejak 1993 saat saya makan pertama kali. Bangunan warung ini juga nyaris tak berubah sejak dulu. Demikianlah barangkali kehidupan. Ada hal-hal yang harus berubah, ada hal-hal yang tak perlu berubah.