Connecting The Dots

      Comments Off on Connecting The Dots

Pada tanggal 24 Februari 1955, Joanne Simpson melahirkan seorang bayi. Kondisinya saat itu tidak memungkinkan untuk membesarkan anak, maka keinginan besarnya adalah menyerahkan bayi itu ke keluarga mapan agar kelak bisa menjadi sarjana. Keluarga pengacara yang ada di urutan pertama pengadopsi ternyata menginginkan bayi perempuan, sedangkan anak Joanne laki-laki. Paul dan Clara yang ada di urutan kedua bersedia mengasuh. Namun Joanne enggan menyerahkan sebab Clara tidak lulus kuliah dan Paul bahkan tidak lulus SMA, hingga akhirnya terjadi kesepakatan ketika mereka berjanji bayi itu kelak akan mereka kuliahkan.
17 tahun kemudian, bayi itu telah menjadi anak muda dan kuliah di Reed College. Menjalani enam bulan kuliah, anak muda ini memutuskan berhenti. Alasannya sederhana, biaya kuliah di Reed College sangat berat untuk penghasilan orang tuanya yang hanya kelas pekerja biasa. Meski drop out, ia tetap di Reed, mengambil kursus kaligrafi justru hingga 18 bulan. Ia jatuh cinta kepada font Serif dan Sans Serif dan banyak menghabiskan waktu menggeluti keindahannya. Tak banyak yang menyangka bahwa anak muda ini kelak menjadi salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di dunia IT. Dalam pidatonya di depan wisudawan Stanford tahun 2005, Steve Jobs si anak muda yang telah menjadi tokoh inspiratif itu, berkata: “Andai saya tidak drop out dari Reed dan belajar kaligrafi, mungkin huruf-huruf komputer tidak akan seindah sekarang”. Ia tidak asal bercanda. Steve Jobs yang merancang fonts untuk Mac, dan karena Windows dianggap ikut-ikut Mac, maka font rancangannya menyebar ke layar komputer di seluruh dunia.
Jobs tentu saja tidak sedang menyarankan mahasiswa untuk drop out. Ia sedang bercerita tentang “connecting the dots”. Tentang bagaimana semua titik dalam perjalanan hidup seseorang selalu memiliki makna besar selama dijalani dengan penuh kesungguhan.