Catatan Dari Ajang LKS 2011 Provinsi Kaltim

      Comments Off on Catatan Dari Ajang LKS 2011 Provinsi Kaltim

LKS 2011 ini adalah LKS yang kesekian kali diselenggarakan. Dimulai dari seleksi tingkat kabupaten/kotamadya, yang sekarang di tingkat propinsi, dan dilanjut di tingkat nasional. Dari tahun ke tahun ada hal yang selalu sama, belum berubah. Ada kesenjangan yang sangat nyata antara wilayah kota dengan wilayah pedalaman dalam kompetensi bidang TI. Kesenjangan yang merupakan hasil dari kesalahan kolektif, dan berdampak banyak. Ada dua dampak yang saya tidak ingin menyebut sebagai ‘merugikan’, tetapi dua hal ini patut menjadi renungan.

Pertama, ketidaksiapan peserta dari kabupaten di pedalaman. Sedemikian tidak siapnya mereka terungkap dengan polos pada saat sesi presentasi. Beberapa daerah mengirim wakil dengan tanpa seleksi yang memadai. Ada peserta yang baru belajar menyiapkan diri untuk lomba beberapa minggu sebelum pelaksanaan. Bahkan ada peserta yang baru mendapatkan pembimbing beberapa hari sebelum lomba. Mereka bukan anak-anak yang kurang cerdas, mereka juga bukan anak-anak yang malas. Mereka hanya anak-anak yang kurang beruntung karena tidak mendapat sarana yang cukup untuk belajar. Resource yang serba terbatas; minimnya referensi dan kurangnya tenaga pembimbing yang mumpuni.

Korban kesenjangan yang kedua, adalah para peserta dari wilayah perkotaan yang tersisih di seleksi tingkat kotamadya/kabupaten. Persaingan yang begitu ketat membuat siswa yang tersisih hanya berselisih tipis dengan pemenang. Beberapa masih layak bertanding, tapi tetap hanya satu yang terbaik yang dapat mewakili. Mereka yang tersisih ini, masih memiliki kualitas di atas rata-rata peserta dari wilayah pedalaman yang lolos ke tingkat propinsi. Ini seperti buah simalakama. Jika tidak dengan sistem kuota, maka peluang peserta dari pedalaman akan tipis. Tapi dengan sistem kuota, maka banyak siswa kompeten di wilayah kota yang tidak bisa ikut di ajang LKS Propinsi.

Tentu, bukan sistem lombanya yang salah. Sekali lagi, ini adalah kesalahan kolektif. Maka, saya menghimbau kepada para pejuang otonomi dan pemekaran, baik kawan-kawan yang sudah berhasil maupun yang tengah berjuang, berjuanglah dengan tidak kepalang tanggung! Jangan setengah-setengah, jangan hanya berpikir tentang hal-hal ‘kecil dan jangka pendek’: kursi jabatan, rumah dan mobil dinas, dsb. Mari berpikir dengan tidak kepalang tanggung, design dan bangun infrastruktur di wilayah pemekaran secara serius yang tidak hanya tahan sependek lima tahun masa jabatan. Kini, -harusnya malah sejak bertahun yang lalu- salah satu yang harus menjadi perhatian adalah infrastruktur IT. Lengkapi sekolah-sekolah dengan laboratorium yang baik, link dan network yang layak, buku-buku yang lengkap, serta pengajar-pengajar yang berkualitas. Dengan demikian, maka pemanfaatan TI dalam kehidupan dapat berjalan sebagaimana harusnya. Implementasi di internal administrasi pemerintahan, layanan publik, serta sekolah-sekolah, tidak semata pada sajian angka-angka kuantitas, tapi juga berwujud kualitas yang elok dilihat dan dinikmati.[]