Balada Gareng: Sebuah Distorsi Informasi

      Comments Off on Balada Gareng: Sebuah Distorsi Informasi

Gareng menyelesaikan pekerjaannya hari itu, mengurus usaha peternakan milik Pak Semar. Setelah semuanya beres, ia berpamitan. Hari mulai senja. Pak Semar memandangi punggung anak buahnya yang sangat ia andalkan itu. Kelak saya akan bisa mempercayakan semua perusahaan ini ke dia dan bisa istirahat, katanya dalam hati sambil tersenyum.

Sampai di rumah kontrakan, Gareng bertemu Petruk sahabatnya. 
“Hari ini sangat melelahkan. Tapi saya sangat menikmati dan bahagia bekerja di tempat Pak Semar.”

Esoknya, Petruk berkata kepada Bagong, sahabatnya.
“Sepertinya Gareng mulai tidak betah bekerja di tempat Pak Semar. Ia kelelahan, sering harus pulang malam.”

Sorenya Bagong bercerita kepada Togog.
“Mungkin sebentar lagi Gareng akan keluar dari pekerjaan di tempat Pak Semar. Pekerjaannya berat, kalau di tempat lain tentu gajinya sudah sangat besar.”

Togog lalu bercerita kepada tetangganya, si Limbuk.
“Gareng tinggal tunggu waktu saja di tempat Pak Semar. Katanya ada tawaran di tempat lain yang gajinya jauh lebih besar.”

Di kantornya, Limbuk bercerita kepada Pak Sengkuni.
“Sungguh beruntung Gareng pak. Ia mendapat tawaran bekerja di tempat lain dengan gaji sangat besar. Karirnya akan terus menanjak.”

Di sebuah pertemuan, Pak Sengkuni berkata kepada Pak Semar.
“Kapan Gareng keluar dari tempatmu? Kudengar di tempat baru gajinya besar. Menurutku sih relakan saja. Carilah pengganti yang lebih baik.”

Seminggu kemudian, nampak Gareng menyelesaikan pekerjaannya. Seperti biasa, ia bekerja dengan ikhlas, penuh semangat, dan hasilnya selalu baik. Ia berpamitan, dan Pak Semar memandangi punggung anak buahnya. Sejak pagi ia ingin bertanya kepada Gareng, tapi hatinya terlanjur terluka.
“Ia sangat pintar menyembunyikan rahasia. Tak kusangka anak buah yang kuandalkan tega menghianatiku.”

***

Gareng, pekerja profesional itu, tanpa ia sadari telah menjadi korban sebuah distorsi informasi. Dalam segala hal, distorsi informasi akan seperti gradasi warna yang sangat tipis. Berubah sedikit demi sedikit tanpa disadari dan hasil akhirnya bisa sangat berbeda. Didukung oleh naluri manusia yang selalu ingin tahu dan nafsu manusia yang ingin terlihat paling tahu atas sesuatu. Secara alamiah saja bisa terjadi, apalagi jika ada pihak yang memang dengan sengaja mengolahnya. Sungguh diperlukan nalar yang sehat dan hati yang jernih agar tetap bisa melihat sebuah kebenaran informasi.