Di sekolah anak saya, guru-guru sangat disiplin mengajar etika. Semua anak wajib menyalami dan mencium tangan guru saat melewati gerbang sekolah. Namun bapak ibu guru ini sering terlupa sesuatu. Mereka lupa mendisiplinkan etika untuk diri sendiri. Mereka lupa untuk menyapa dengan ramah, atau setidaknya memberikan senyuman. Bahkan beberapa sering terlihat asyik mengobrol sambil menyodorkan tangan…
Category: Aforisma
Doa Flintstone
Determinasi batu akik memang luar biasa tak terkira. Di semua sudut kota, pusat perbelanjaan ataupun di bawah pohon ada. Bahkan di bandara, mau cari batu apapun ada lengkap dengan price tag yang jelas. Mungkin dulu dalam salah satu kamar batunya yang gelap, Flintstone pernah berdoa kepada Tuhan agar ada masa datang ketika manusia modern memuja…
Mencintai Rasa Benci
Ketika kita membenci seseorang, mungkin saja seorang tokoh, kita bisa saja sampai pada tahap sedemikian rupa sehingga kita mencintai rasa benci itu. Dan ajaibnya, kebaikan apapun yang dilakukan tokoh itu, kita selalu bisa menemukan cara untuk mencemoohnya. Dengan segenap intelektualitas yang kita duga ada pada diri kita. Lalu dengan ukuran yang sama, kita juga bisa…
Pelayan Listrik
Di tengah gulita yang terhampar di bumi Kaltim malam ini, saya percaya masih ada petugas PLN setengah tua yang basah kuyup berkeringat. Berusaha keras dan berdoa agar listrik segera menyala dan mengantarkan cahaya ke rumah-rumah. Mungkin saja gajinya juga tidak besar, dan tentu tak sempat lagi melewati gelap malam menemani istri dan anaknya. Ia tak…
Balada Akik
Tiba-tiba saja, saya membayangkan bertemu dengan Fred Flintstone. Ia sedang terbahak. Perut gempalnya nampak bergerak lucu tersembul di sela baju kulit kayunya yang tak menutup sempurna. Ia sedang duduk di atas batu berwarna biru terang di samping rumah batunya yang beraneka warna. Lalu ia berseru sambil menunjuk ke gunung-gunung batu. Lihat, wahai, lihatlah. Kini kalian…
Terima Kasih, Sepakbola
Mari berterima kasih kepada sepakbola. Ketika Pancasila-pun menyerah, ia menunjukkan cara sederhana untuk bersatu. Persatuan yang semu, dan bersyarat: selama terus bermain baik dan menang
Hujan Tak Berubah
Hujan mengguyur. Hujan yang tak pernah berubah. Kitalah yang berubah.
Gerobak Dorong
Hujan tumpah begitu saja. Penjual es dorong menggigil di bawah pohon. Orang-orang berlarian. Beberapa tertawa, beberapa mengumpat. Selekas tumpah, selekas berhenti. Baginya tak ada ada yang perlu dipersalahkan. Hidup tak selalu sesegar es buah, atau selembut gerimis. Ini tentang hidup seukuran gerobak dorong, yang harus habis isinya hari ini. Sederhana, tak segarang elpiji, atau serumit…
Pelampung
Menyusuri kanal Sungai Baung, lalu disambut anak sungai Musi. Menjadi satu-satunya yang pakai pelampung di speedboat. Terkesan penakut air, tapi peduli amat. Bukankah yang paling bertanggungjawab atas jiwa kita adalah diri kita sendiri?
Debu
Lewat hujan, alam membasuh wajah kota. Membersihkan debu jalanan, dan debu di hati kita. Besok, debu baru akan bermunculan lagi.