Hari itKecak-1u 17 Juli 2009, rombongan memutuskan ke Uluwatu. Setelah lelah berolahraga air di Tanjung Benoa, ke Pulau Penyu serta mampir di GWK, maka sebenarnya saya sudah tidak begitu peduli mau mampir kemana lagi. Yang penting refreshing.

Tapi begitu mulai masuk ke kawasan Uluwatu, ada sesuatu yang lain. Seperti ada nuansa magis sejak pintu masuk. Beberapa penjaga, dengan sopan memperhatikan pakaian pengunjung. Yang bagian bawahnya terbuka, alias pakai celana atau rok di atas lutut diberi selembar kain untuk menutup.

Bagi yang lain, cukup diberi sebuah kain selendang untuk diikatkan di pinggang. Awalnya saya dapat warna ungu, tapi seorang kawan rombongan yang perempuan mengajak bertukar karena ia mendapat warna orange. Tak masalah. Tiket untuk masuk per orang Rp 50.000,-. Rupanya itu adalah tiket untuk menonton pertunjukan tari kecak. Berhubung ini ‘liburan khusus’, maka semua urusan tiket seperti ini, sudah ada yang mengurus.

Memasuki Uluwatu, kami segera disambut puluhan monyet yang jinak. Oh ya, sejak awal penjaga telah mengingatkan untuk menyimpan kacamata. Entah kenapa, rupanya monyet-monyet di sini walau jinak ternyata sangat gemar mencopet kacamata. Dan jika sudah diambil mereka sulit sekali untuk mengambil kembali, kecuali kita sepintar mereka memanjat pohon.

Jalan setapak di Uluwatu terletak di lereng bukit di pinggir laut. Seorang kawan rombongan berbisik bahwa sunset di sini indah dan magis. Melihat kondisi alam serta pohon-pohon di ujung bukit, maka saya sepakat dengannya. Setelah sibuk memotret para monyet kamipun sampai di sebuah tempat yang cukup menarik. Ada sebuah tanah lapang yang dikelilingi bangku bersusun yang melingkar, dan di tengahnya ada semacam benda seperti tungku pemujaan. Saat kami datang, pengunjung sudah mulai banyak. Hari mulai senja, dan sebentar kemudian seluruh tempat duduk telah terisi. Saya menduga pengunjung tak kurang dari 1000 orang. Lebih dari separuhnya adalah wisatawan asing.

Pertunjukanpun dimulai. Puluhan penari pria memasuki arena. Menurut informasi, jumlah penari kecak itu bisa mencapai ratusan. Tapi di pertunjukan sore ini, saya menduga tidak lebih dari 50 orang. Seperti yang sering kita saksikan di teve, tari kecak penuh dengan suara decakan dari mulut para penari dengan irama yang khas.
Saya berbisik ke bule di sebelah saya kalau ini pertunjukan tari mulut. Ia tertawa tapi lebih suka menyebutnya dengan techno-dance.

Kecak-3Tari kecak sendiri sebenarnya memuat kisah fragmen Ramayana, yaitu saat Rahwana menculik Dewi Shinta, hingga Anoman yang tampil membela Sri Rama. Sebagai anak kampung yang mengenal wayang sejak balita, tentu saja cerita Ramayana ini saya hapal di luar kepala. Tapi pertunjukan tari kecak ini bukan hanya soal cerita. Suara penari pria yang terus bersusulan, ditingkah beberapa penari wanita yang gemulai memerankan kisah Ramayana, benar-benar membuat suasana senja yang memerah tambah elok. Para penonton terbuai dengan rasa yang seolah melayang mengikuti asap dari api di tungku pemujaan.

Tari kecak adalah tari keagamaan. Namun di Uluwatu ini mungkin memang sudah dikemas khusus untuk menghibur. Beberapa penari pria berdandan ala badut punakawan terlibat perkelahian lucu dengan Anoman. Salah seorang penari yang berdandan badut akrab berinteraksi dengan penonton. Mengucapkan beberapa sapaan bahasa Inggris. Tiba-tiba Anoman datang dan memelorotkan celananya dan menyisakan celana pendek ala wisatawan. Seseorang yang memerankan tetua pun ikut melucuti baju atas dan topengnya dan ternyata pemeran penari yang lucu ini memang seorang bule setengah umur. Dan tiba-tiba saja seluruh penonton yang hadir menyadari bahwa ini memang sebuah hiburan!

Di akhir pertunjukan ini saya membaca selembar kertas yang sebelumnya dibagikan saat masuk. Pertunjukan tari kecak ini dilakukan oleh Sanggar Tari dan Tabuh Karang Boma, Desa Pecatu.

Kecak-2Awalnya, kecak berasal dari tari sakral “Sang Hyang”. Seseorang yang kemasukan roh akan menjadi media komunikasi dengan para dewa atau leluhur yang akan menyampaikan sabdanya. Namun, mulai tahun 1930, mulai disisipkan cerita epos Ramayana.

Diluar setumpuk kekaguman akan pertunjukan yang sangat eksotis ini, pikiran saya melayang untuk urusan ekonomi. Dengan tarif masuk 50 ribu dan pengunjung sekitar 1000 orang, maka hanya dalam waktu tak lebih dari 1 jam pertunjukan ini telah menghasilkan uang 50 juta rupiah. Jika ini berlangsung tiap hari, maka sungguh pertunjukan yang nyaris tanpa modal besar ini adalah sebuah bisnis pertunjukan yang bernilai ekonomi sangat tinggi.

Bali memang Pulau Dewata. Tuhan yang Maha Kuasa telah menganugerahkan alam yang indah, budaya yang terpelihara, serta penduduk yang ramah. Hal-hal ini seharusnya menjadi bibit sebuah ‘kecemburuan positif’ bagi daerah lain di tanah air untuk mulai berpikir mengelola dan menjual wisata alam dan budaya dengan lebih baik dan cerdik. []