Pilkada: Di Indonesia Itu Banyak Pemimpin, Atau Paling Tidak Pemimpi

      Comments Off on Pilkada: Di Indonesia Itu Banyak Pemimpin, Atau Paling Tidak Pemimpi

Meski tidak mengikuti perkembangan secara serius, bahkan di daerah saya sendiri, tetapi saya bisa melihat nampaknya Pilkada berjalan dengan sangat marak. Ada yang berlangsung aman, ada yang yang sampai ke pengadilan dan ada juga yang baku pukul, dengan bonus beberapa perusakan dan pembakaran.

Saya tidak sedang ingin membahas hal-hal itu dengan lebih jauh. Saya ingin mencoba melihat Pilkada ini dari hitungan matematis.

Kalau mau jujur, sebenarnya menjadi pemimpin daerah itu sungguhlah berat. Di daerah saya -kabupaten dan kotamadya di wilayah Kalimantan Timur- sesungguhnya adalah daerah-daerah yang cukup beruntung karena memiliki sumber daya alam yang mencukupi, dan sebagian memiliki posisi strategis dalam perdagangan, sesuatu yang tidak setiap daerah memilikinya. Tetapi, bahkan di daerah yang relatif makmur inipun, saya melihat bahwa andaikata daerah ini adalah suatu perusahaan, maka ia adalah sebuah perusahaan yang tidak ringan untuk ditangani, walau oleh seorang CEO berpengalaman sekalipun. Betapa tidak, coba saja lihat berapa besarnya kewajiban keuangan serta kewajiban sosial yang harus dipikul oleh pemerintah daerah. Pekerjaan-pekerjaan untuk infrastruktur, perbaikan-perbaikan untuk layanan sosial, ledakan pertambahan penduduk, dan segudang hutang pekerjaan lain. Jika disebutkan satu per satu sungguh amat banyak. Misalnya saja, kondisi jalan untuk transportasi. Di daerah kota sudah seringkali timbul kemacetan luar biasa, sementara jalan luar kota sudah berlobang di sana-sini. Sampah, banjir musiman, gelandangan dan anak jalanan, PKL, angka kriminal yang tinggi, adalah sebagian dari hal-hal yang sungguh tidak ringan untuk ditangani.

Lantas, dengan kondisi yang demikian, kenapa dalam setiap Pilkada selalu ada begitu banyak calon pemimpin yang mendaftar untuk menanggung beban yang berat tersebut?

Berat atau tidak menjadi seorang pemimpin, mungkin tergantung dari sudut pandangnya. Atau lebih tepat lagi, mungkin tergantung apa yang dipandang. Dari sisi lain, menjadi pemimpin suatu daerah, mungkin juga sebuah peluang seperti halnya kita melihat peluang dagang, peluang berinvestasi atau bahkan peluang berjudi. Bagi seorang calon pemimpin, apalagi yang belum begitu dikenal, maka usaha untuk membuat dikenal dan dipercaya warga adalah sebuah upaya yang tidak gratis. Bisa jadi dana yang diperlukan untuk itu amat besar. Nah, secara matematis, jika orang sudah mengeluarkan investasi besar, lantas begitu berhasil malah harus menanggung lagi beban berat permasalahan di daerah yang dipimpinnya, apa bukannya sudah jatuh lantas ditimpa sama tangganya?

Seorang teman berkelakar, bahwa menjadi seorang pemimpin yang “bersih” sekalipun, tetap akan mudah menjadi kaya, meskipun tanpa korupsi. Maksudnya, jangan sampai tergoda untuk mengkorupsi dana anggaran yang mudah diaudit, jangan sampai tega untuk mengambil dana sosial karena itu sungguh dzalim, lagian jumlahnya tidak seberapa dan jika ketahuan akan sangat tragis. Cukuplah banyak berbuat baik, misalnya jangan menolak pemberian ikhlas dari kontraktor proyek yang tendernya kita menangkan. Jangan sampai mengecewakan pihak-pihak yang ingin memberikan tanda terima kasih karena bisnis hitamnya kita lindungi.

Buru-buru, sambil mengucap astaghfirullah, saya buang jauh-jauh pikiran itu. Saya mohon kepada Tuhan, setidaknya untuk daerah saya, calon pemimpin adalah memang orang-orang yang sudah siap luar dalam, ikhlas berjuang dan selalu berada di jalan Tuhan. Semoga! []