Kisah Si Burung Cinta

      Comments Off on Kisah Si Burung Cinta

Dulu sekali, saya pernah menjadi peternak ayam bangkok. Lalu ketika mulai bosan, saya berganti ternak yang lain. Saya tertarik lovebird, sejenis nuri yang imut. Mulailah saya hunting indukan. Di Samarinda lovebird baru mulai muncul. Mengikuti referensi, saya kumpulkan lovebird saya di kandang besar untuk mengamati mana yang mulai pacaran. Hingga akhirnya ada dua ekor lovebird yang selalu berdekatan tak mau pisah. Target ditemukan. Maka saya pindahkan dua sejoli ini ke kandang pengantin. Yang lainnya agak saya abaikan. Ada yang lepas dari kandang, ada yang diambil kawan. Berikutnya saya jadi sibuk menghias kandang pengantin. Tempat bertelur sudah saya siapkan. Lagi-lagi mengikuti referensi, saya beri alas serpih kayu yang lembut dari tempat penggergajian kayu. Di Samarinda mudah sekali mendapatkannya. Dan demikianlah, hari demi hari, sebelum berangkat dan sesudah pulang kantor, saya selalu mengintip dua sejoli yang sedang kasmaran ini. Mereka benar-benar burung cinta. Sering berciuman, dan saling menyisir bulu. Jika yang satu terbang ke sisi yang lain, yang satunya segera menyusul. Saya sungguh tak sabar menunggu si betina bertelur lalu menetas bayi-bayi lovebird. Saya memang seorang breeder, bukan penggemar kicauan burung. Kebahagiaan saya ketika melihat mereka bereproduksi.

Lalu, setelah menunggu sekian waktu, mereka tak juga memiliki telur. Pasti ada yang keliru. Rasanya tak ada masalah dengan rumah pengantin mereka. Lovebird itu monomorfik, jantan dan betina sulit dibedakan secara visual. Setelah mengamati lebih lama saya merasa ada yang janggal. Dua burung saya itu memiliki perilaku yang sama persis ketika di sarang. Dua-duanya mendekam seakan mempersiapkan diri hendak bertelur. Gawat. Walau tidak menguji DNA-nya untuk memastikan jenis kelamin, saya menduga keduanya betina. Mereka menyukai sesama jenis. Saya segera mengambil keputusan berat. Keduanya saya tawarkan ke dua teman yang berbeda. Tentu, mereka punya hak untuk mencintai burung manapun. Namun dalam kasus ini, efeknya besar. Tak terbayang jika perilaku menyimpang mereka diikuti oleh lovebird yang lain. Jika itu terjadi, maka generasi lovebird diambang kehancuran. Belum lagi masalah lain, mereka secara nyata telah memberikan harapan palsu kepada peternak. Semoga dua burung saya itu akhirnya mendapatkan jodoh yang benar, yang akan membuat mereka memiliki keturunan.