KERETA TERAKHIR
- Artikel:
Karya: Y. Wibisono
Tinggal kau, lalu aku. Dan hati kita segera kosong seperti
stasiun ini. Rel beku, gerbong sunyi. Bahkan menyentuh
lenganmu saja aku tak berani. Adakah wajah selain wajah
kita di sini? Bulan pucat, wajah kita terpantul asing di
ujung peron. Pepohon berjajar dalam bayang remang.
Dingin, bisikmu. Aku mendengarnya seperti lagu lirih
menembus lembut gendangku. Merayap seperti kabut di
kepalaku, kabut yang dingin. Musim tak selalu ramah.
Entah mana yang lebih menakutkan. Ketakmampuanku
melukis garis malam atau aku yang meradang membaca
matamu?
Betapa nyanyi serangga, bulan pucat, dan perempuan,
bersekutu mereka memasung malam. Tawang yang sepi,
Tawang yang nglangut. Meski padanya telah terekam
beribu cerita. Duka bahagia, jangan tanyakan lagi. Tak
usah bersenandung cinta di sini, katamu. Sebab terlalu
banyak onggokan luka dan ceceran derita. Ah, padahal
aku berharap, cinta dapatlah menghapus nestapa.
Setiap persinggahan mencatat sisa tanya. Pun di sini.
Kereta datang dan pergi. Kisahpun bertumpuk. Telah
penuh lantai dinding atap stasiun dengan roman segala
abad. Kau temukan dirimu di sini? Seekor serangga
menabrak tiang lampu jalan. Kita terhenyak. Sungguh
waktu dan kita telah saling memburu.
Deru kereta seperti masih ada. Kereta yang melintas
di selasar hati. Tetap saja sunyi. Berpuluh pena telah
patah di tengah, teriris senyum di sudut bibir. Sungguh,
memuisikanmu sama sulitnya dengan menerka adakah
seseorang di stasiun berikut yang menunggu sepi seperti
kita? Tetap saja sunyi. Bangku-bangku, tiang, dan loket
telah tertidur.
Ingin kutembangkan Asmaradana, tapi nanti kau terpejam.
Barangkali jaman telah memutus, biarlah, di setiap
persinggahan selalu ada yang bermekaran. Tak ada yang
kekal. Seperti lamunan kita yang terbuyar ketika suara
itu mengirim pesan, dan sorot lampu yang membelah
kabut di kejauhan. Kereta terakhir. Seperti pertanda,
akankah kisah berakhir? Tak perlu dipercakapkan. Berikan
dekapan terhangat. Juga butir airmata penghabisan, yang
masih bisa kuusap.
Samarinda, 28/11/2006
Sebagian orang mengira, bahwa pekerjaan membuat program itu hanyalah hal teknis; logika dan matematika, dengan menghapal sejumlah instruksi. Orang lupa bahwa ada pekerjaan otak kanan di sana. Jika penyair perlu kontemplasi demi memburu tetes demi tetes inspirasi, demikian pula yang dilakukan para programmer.
Ini rindu tentang sebuah dangau, atau gubug kecil di tepi kali. Lalu beberapa orang akan datang, dengan pena dan kertas. Sesekali akan ada obrolan gayeng, yang sekejap mungkin berganti diam. Diam yang padat, ketika penulis mengobrol dengan karyanya. Dan demikianlah, komunitas kecil itu lalu kami namakan JORAN.
Hanya berisi hal-hal remeh. Ini bukan sebuah ruang perpustakaan mewah, atau showroom karya-karya berharga. Sebagian berupa lembaran kertas setengah jadi, beberapa hanyalah catatan asal tulis. Walaupun, tetap saja ada harapan bahwa satu waktu seseorang akan merasa bahwa catatan-catatan remeh ini berguna.
Recent comments
1 year 24 weeks ago
1 year 24 weeks ago
1 year 24 weeks ago
1 year 25 weeks ago
1 year 25 weeks ago
1 year 25 weeks ago
1 year 25 weeks ago
1 year 25 weeks ago
1 year 25 weeks ago
1 year 25 weeks ago