Catatan asal tulis seorang Pekerja IT

[Sastra] - Kumpulan Puisi

Kumpulan Puisi Karya Yusuf Wibisono

SIMPANG EMPAT AIR PUTIH

Karya: Y. Wibisono

ada yang tertegun di sudut simpang
termangu di bawah temaram lampu jalan
waktu telah mencuri darinya
seorang lelaki yang ketinggalan taksi

bang udin, juragan ikan bakar itu
telah pula berambut dua warna
seperti warna kehidupan yang telah direguk
di antara aroma asap patin bakar dan peluh
para sopir bertelanjang dada

dan dulu, dulu sekali
terngianglah gurauan itu:
"berikan nomor-nomor jitu dari komputermu
kau bisa makan gratis sebulan di sini
dan keponakanku yang dari handil itu
bolehlah kau pacari"

ah, abang udin

SKETSA DUKA

Karya: Y. Wibisono

duka itu adalah
malam-malam yang kering
dengan kegetiran yang mengiris
ditiupkan dari langit dan awan hitam
yang berarak tanpa arah

duka itu adalah
seorang pria yang memunguti serpihan masa kecil
seperti pengembara yang menghitung
dedaun kering yang dihamburkan angin
dari musim yang asing

sepanjang samarinda-sepinggan
hanyalah noktah-noktah kegelapan
dan goresan kelam pada kanvas usang
bungurasih, mojokerto, kediri
pun hanyalah tulisan-tulisan tanpa arti
dalam labirin kesenyapan tanpa tepi
aku mengigaukanmu, kak

PEREMPUAN JEMBATAN

Karya: Y. Wibisono

dia selalu mencium bau hyena
pada setiap aroma tubuh lelaki
maka selalu ditutupnyalah segala hal yang indah
ketika makhluk itu ada di sekitarnya
dengan dengkingan-dengkingan
yang memuakkan juga mengirim kengerian

ketika malam tak selalu ramah
maka mimpinya adalah memanah seekor hyena
lalu mengirisnya tipis-tipis
memanggangnya dengan nyala dendam
dan menjajakannya di tepian jembatan

perempuan itu sedang memaki rembulan
ketika arakan mega tak lagi menutup rimbun beringin
tempat ia memasang perangkap mangsanya
:seekor hyena tua, yang terhuyung

CENDAWAN JINGGA DI PUNCAK MERAPI

Karya: Y. Wibisono

pertemuan kita, Shella
seperti sebaris rumput kering yang tersaput embun
lalu memudar ketika mentari menampakkan sinar

berceritalah tentang apa saja
apapun itu adalah tak penting untukku
sebab aku terlalu sibuk
menghitung setiap ruas bulu matamu
juga sebentuk bibirmu yang kulukiskan
bagai bilahan rona mawar di taman yang basah

dan jalan terjal berbatu ini
hanyalah permadani indah yang kulangkahi
sebab genggam tanganmu mengalirkan kehangatan
dan menusuk terdalam
keringnya hati perantau seberang

jangan pernah paksa aku memilih

DI SINI, SURGA ITU BERNAMA MAHAKAM

Karya: Y. Wibisono

ombak pecah beriak
bermain lemparan
wajah rembulan
terayun dipantul
bagai kanak berebut

perahu kecil bermain
meniti buih
berpacu ketinting riang menderak malam
kapal pedagang tak tergoyah ombak
bersenandung hening penjelajah sungai
ponton batubara merayap
serupa bukit berjalan

lampu-lampu terhampar
bagai kunang-kunang menggoda malam
bagai kerling si jelita
berkerlip di atmosfir beraroma jingga
menyuguhiku secawan anggur

mengagumkanku,
bagai tak putus

mengecilkanku,
bagai debu di tiang dermaga

rohku menggelepar dalam dahaga tak terpuasi

KOTA INI MENYUKAIMU

Karya: Y. Wibisono
(untuk gadis D, pengganti souvenir yang tak sempat kukirim)

(1)
sebatang sungai berkelok di antara hati yang meragu
dan di muaranya aku masih saja memilin
pintalan cerita dengan akhir yang selalu ambigu

barangkali masih ingin kuceritakan lebih lengkap lagi
tentang bisikan daun-daun gmelina
dan keluh kesahnya tentang hujan
yang tak mampu didekapnya erat

barangkali aku masih juga ingin mengajakmu
menghitung kerlip lampu yang berjajar di sepanjang mahakam ini
dan kitapun segera menjadi kanak
yang berlari riang bermandi cahayanya

PERJALANAN 3

Karya: Y. Wibisono

akupun berkemas
melipat senyum di dalam koper
:selamat berjumpa kembali dengan debu

perpisahan ini tak akan dikenang
seperti daun yang jatuh ditiup angin
seekor tupai dan ranting akasia
meringkuk ditelan sepi
seperti keringnya mimpi kami
tentang warna-warna emas bulir padi
dan sekawan pipit yang bernyanyi
tentang panen dan orang-orangan sawah

kembali kami menghitung debu
kaca kendaraan hanyalah bentangan
kanvas coklat yang buram
roda yang menderik dan debu yang bergulung,
seperti inikah negeri sihir?

kali terakhir,

PERJALANAN 2

Karya: Y. Wibisono

mahoni tua itu ternyata masih mengenaliku
dan segera saja kami akrab berkelakar
tentang lelaki yang hatinya gersang
seperti tebing-tebing kapur
dengan garis hitam melintang di kejauhan
lalu aku bilang: anginmu kering
seperti musimmu yang kering
bahkan hujan semalampun
adalah hujan yang meradang

dan layaknya arus di riam udang
ceritamupun mengalir deras ke uratku
tentang rimbamu dulu yang bagai dongeng
dengan mata air dari kayangan
burung-burung dan siamang yang bergelantungan
juga hantu-hantu pulau kumala
yang mengunjungimu di akhir pekan

PERJALANAN 1

Karya: Y. Wibisono

samarinda - teluk dalam - sebulu
berjam-jam kami mengeja debu
matahari telah mengupas atap kendaraan
juga menggosongkan kepala para pekerja kayu
:ini khatulistiwa yang sebenarnya!
lalu kamipun mentertawakan semak-semak
di sisi jalan berdahan dan berdaun debu

musim yang gelisah,
segelisah hati para transmigran
mengganti lembu dengan truk-truk kayu
mengganti lumbung padi dengan mini-sawmill
lalu batang-batang padipun
hanyalah artefak mimpi yang tak jadi
mimpi yang memimpikan mimpi
seperti lagu yang ringan:
transmigran tak bertani

KOTA INI SAKIT JIWA

Karya: Y. Wibisono

seorang gadis telah berpisah dengan air mata
dilipatnya selaput dara lalu bergegas ke pasar lelang
seorang lagi ketawa sendiri
di depan cermin bermimpi kawin dengan matahari

di pertigaan muara
seorang anak jalanan telah memanah matahari
matahari yang terluka lapor ke polisi
dicatat petugas jaga, tunggu
semua pasukan lagi di lapangan
menjaga pasar lelang!

di tempat lain
seorang pejabat telah memperkosa keadilan
lalu mencampakkannya terkangkang di tikungan jalan
anak-anak jalanan datang menghibur
keadilan bangkit merangkul anak jalanan

Walau kalah populer dengan pesaing lain, semisal DotNet dari Microsoft, tapi PB sejujurnya adalah tool yang memukau dan pantas jadi pilihan developer. PB adalah the best RAD (Rapid Application Development) dan the real OOP (Object Oriented Programming). Mau tahu lebih banyak? Gabung saja di http://groups.yahoo.com/group/indopb

Darah petarung sejati telah ada di tubuhnya sejak lahir. Ia tak perlu guru untuk menguasai teknik bertarung yang baik. Sebab, ia memang ditakdirkan untuk hidup sebagai petarung. Anda ingin kenal lebih jauh? Kunjungi http://ayam-bangkok.blogspot.com

Jika anda alumni SMAN 1 Trenggalek, jangan lewatkan kesempatan untuk berkumpul kembali dengan kawan-kawan lama anda di http://groups.yahoo.com/group/smanesa