Kulitnya gelap. Rambutnya menantang langit. Tapi setidaknya, ia tak memakai anting-anting. “Masih sekolah?” “Masih om. Di Karangasam.” “Kelas berapa?” “Kelas empat.” Ia, bocah lelaki itu, beranjak pergi sambil memeluk ukulele-nya. Senja telah memuram, malam baru saja mulai di traffic light […] ↓ Read the rest of this entry…